Motisakti

Motisakti

Sabtu, 04 Mei 2013

BASAH (BerkAh SedekAH)

Afwan ya ada-ada aja singkatan saya ini... BASAH (BerkAh SedekAH)

jujur saya tidak ingin banyak menulis,,, karena saya yakin banyak kok dari antum sekalian yang pernah merasakan berkahnya.... saya justru mengajak antum sekalian comment dan berbagi cerita pengalaman mengenai berkah sedekah ini..... bukan buat ajang riya tapi buat penyemangat teman-teman lain buat sedekah....

Mengutip sebuah ayat dalam AL-Qur'an surah Al-Baqarah : 265
"Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun-kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Sungguh masih banyak ayat-ayat lain mengenai sedekah.... namun baru membaca satu ayat itu saja sudah membuat saya takjub... Subhanallah,,, Allah sungguh tidak akan menyia-nyiakan kebaikan kita meski seberat zarrah. (baca Al-Zalzalah : 7)^^

Kalau antum sering mendengar ceramah ustad Yusuf Mansyur tentang sedekah... pasti antum sudahlah lihat contoh-contoh orang-orang yang sukses karena sedekahnya, kedermawanannya....
Bahkan Ummul Mukminin, Aisyah ra. juga merupakan orang yang gemar sedekah....

Aisyah kerap lebih mengutamakan pengemis daripada dirinya sendiri yang sedang berpuasa. Suatu hari ketika Aisyah sedang berpuasa, seorang pengemis mendatanginya. Saat itu hanya ada sepotong roti dirumahnya. Maka Aisyah berkata kepada pelayannya, "Berikah roti itu kepadanya?"
"Akan tetapi, engkau tidak memiliki sesuatu untuk kau makansaat berbuka puasa nanti selain roti tersebut," jawab sang pelayan.
"Berikan saja roti itu," perintah Aisyah sekali lagi.
"Baiklah," jawab sang pelayan.
Sore hari, menjelang waktu berbuka tiba, Aisyah menerima hadiah berupa daging kambing berikut rotinya. Maka ia memanggil sang pelayan dan berkata, "Makanlah! Ini lebih baik daripada rotimu tadi. (HR Malik)

Subhanallah..... harta yang engkau sedekahkan takkan berkurang,, justru semakin bertambah ^^.


Kamis, 04 April 2013

KAWAT (KArena akhWAT)

Ups... afwan kalau ada yang kurang berkenan dengan singkatannya kok KAWAt sich? hehhehe....
Saya tidak akan membahas singkatan yang mau saya uleg-uleg itu akhwat...
Hemmm,, ada apa dengan akhwat....
Dulu saat menjadi pengajar di sebuah SD swasta, saya tergelitik berfikir kenapa ya wali kelasnya akhwat semua? kenapa ya pengajarnya hampir 80% akhwat? Kenapa gak dicoba ikhwan jadi wali kelas? dulu pernah tuh waktu saya masih SD, wali kelasnya ikhwan, pas SMA juga... hmm....
Begitu juga saat saya nimbrung mbantu-bantu TPQ, gurunya juga banyak akhwat. saat saya tawarkan ke kepala sekolahnya yang juga akhwat tentang penambahan personil guru, beliau menyarankan ditambah guru akhwat aja?

Loh kenapa??? Ya dan pertanyaan kenapa itu akhirnya keluar dari muut saya. Dan jawaban beliau karena akhwat lebih telaten, karena akhwat punya jiwa keibuannya, dia lebih bisa halus menyayangi dan cenderung berusaha untuk mengajarkan tutur bahasa yang salih. (dengan sedikit editan saya)

Wao.... hemm,, kalimat jawaban yang mungkin bikin GR akhwat sedunia.

Iya memang benar, kembali lagi ke SD, di SD itu macem-macem perniknya anak nangis, ngompol, muntah, sakit.... hem,, memang akhwat lah yang jago dan paling pas menangani hal ini. Tangan halus dengan jiwa penuh kasih sayangnya lah yang paling bisa meluluhkan dan menenangan kondisi psikis anak.

_benar karena akhwat lebih mengedepankan perasaan,, dan karena akhwat terlahir dengan jiwanya yang lembut_

Subhanallah bangga saya jadi akhwat...
Akhwat adalah madrasah pertama untuk anaknya kelak, dialah yang mengajari anaknya untuk mengucap A, B, C, D, dialah yang dengan lembut menidurkan anaknya...dalam gendongan sang ibu, anak pun merasakan kenyamanan, maka dia tenang dari tangisnya....

Bahkan ketika ditanya, siapa orang yang harus kita hormati Rasulullah SAW sampai tiga kali menjawab ibu, ibu, ibumu.... subhanallah

"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapih selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, "Ya tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dap[at mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat baik jika Engkau ridai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh aku bertaubat kepad Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim." (QS. Al-Ahqaf:15)

Subhanallah... saya bangga terlahir sebagai akhwat....^^

*)speechless 

Senin, 01 April 2013

Pelangi Kehidupan ^^

Saya rasa hidup ini selalu memberikan suprise dari hari ke harinya, apa yang saat ini terjadi tak dapat kita terka waktu kemarin, apa lagi apa yang lusa terjadi.. Sulit untuk menerka semua ini...
Hidup ini memang penuh suprise....
Suprise itu bagaikan pelangi kehidupan.... Karena suprise-nya akan menghantarkan kita pada ekspresi wajah dan ekspresi hati yang beragam....
sedih-bahagia-tawa-marah-kecewa-....
Jadi ijinkan diri kita menikmati pelangi kehidupan yang akan mengantarkan pada pendewasan dan kekokohan keyakinan pada Sang Maha Rahman.... ^^


Rabu, 20 Maret 2013

TKTP (Tinggi Kasih sayang Tinggi Perhatian)

Kalau di ilmu gizi TKTP itu singkatan dari Tinggi Karbohidrat Tinggi  Protein sekarang ijinkan saya ganti ya jadi Tinggi Kasih sayang Tinggi Perhatian.... hehehe

Pernah mengurusi kakek nenek yang sakit,, atau paling dekat dengan kita saja lah,, pernah mengurusi Orang tua yang sakit... jujur saya pernah. kalau kalia... yang sudah pernah silahkan ngacung hehehe...

Bagaimana rasanya? capek atau malah risik mendengar keluh kesahnya? atau malah males dengan semua perintahnya yang inilah itulah?? # jujur ini bukan curhat loh ya,, saya lagi ALis (Asal tuLis) ^^

Iya meskipun bukan berniat curhat, tapi saya akui ketika ortu sakit memang tenaga dan hati sedikit berbeda. Kadang saat kita mau tidur, baru mau merebahkan tubuh, eh beliau teriak minta ini itu...

Kadang saat kita mau membaca, eh datang lagi panggilan ini itu.....

Capek ya? Kesel? Jengkel? Dongkol?
Saya yakin, afwan bukan men-judment, tapi saya yakin pasti dalam hati pembaca ada yang berteriak keras TENTU/PASTI

Wajar kok...
Tahu kah kalian orang yang sakit ketika dia mengeluh dengan suara keras misal bilang "DUH GUSTI"... "ASTAGFIRULLAH"... percayakah kalian saat itu psikologisnya alias kondisi batinnya sedang ingin diperhatikan, ingin dirawat, ingin ditanya, atau paling enggak ingin ditunggu....
Sama dengan saat kita sedang ada masalah, langsung update status di wall, intinya curhat, nanti banyak comment langsung membung hati, kalau gak ada comment cuma mringis,, hehehe
Sebenarnya kondisi hati sudah tidak terlalu parah tapi ingin saja mengutaran, ingin dapat dukungan moril penguat hati, dll
Ya, sama kan berarti memang saat sedih-sakit-galau memang masa dimana kita butuh Tinggi Kasih sayang Tinggi Perhatian istilahnya TKTP

Sekarang saya akan mengajak teman-teman semua untuk kembali ke ingatan masa lalu saat kita masih kecil...
Apa yang kita lakukan pada ortu kita, Kita pun juga butuh TKTP dari ortu dan sungguh merepotkan.....
saat ibu kecapekan dan terlelap tidur tiba-tiba kita nangis, ternyata buang air kecil, ibu ganti popok.
selesai ganti popok kita kembali terdiam, ibu pun bisa tidur,
saat beberapa menit tidur, kita nangis lagi, giliran ayah terbangun, ternyata digigit nyamuk terpaksa ayah meninabobokan kita, mengendong kita hingga benar-benar tertidur pulas.
Jam 2 malam kita menangis lagi, ternyata lapar....

Begitu terus dan itu bukan hanya berlangsung saat kita bayi-sedewasa inipun kita sering menyusahkan, minta dibelikan HP model terbaru, minta dibelikan laptop, minta motor, minta ini itu....
Dan saat kita sakit-rewel-berada didalam kamr tak mau keluar- bertapa orang tua sangat berperan dalam memberikan TKTP, tanpa kita kode/pinta.....
luuaar biasa... bayangkan betapa sabarnya ortu kita dalam menghadapi kita.....

Nah sekarang saya balik ya....

Kini roda kehidupan telah berputar, ortu kita tidak sekuat dulu, sakit, lemah, dan membutuhkan perawatan.... siapa yang mau merawatnya? pembantu kita-perawat yang dibayar dengan gaji tinggi-atau parahnya lagi dirawat oleh pegawai Panti Tuna Wreda.... semoga kita tidak sampai setega itu (aamiin)

Coba saya balik tanya... saat kita bayi, siapa yang menganti popok? siapa yang menyusui? siapa yang meninabobokan saat kita rewel tiada henti? siapa yang menyuapi kita? siapa yang membantu kita berjalan? siapa yang membelikan sepeda roda tiga? siapa yang mengajari mengayuh sepeda?
Saya yakin hati kecil kalian akan berkata ayah bunda - papa mama - romo biyung - umi abi.....

Apakah kita masih mau berkata capek mengurus mereka sedangkan belasan tahun-puluhan tahun kita diurus mereka, dan mereka tak pernah protes, bahkan tidak meminta imbal balik, adakah orang tua yang meminta gaji pertama anaknya? saya rasa tidak ada, justru kita sendiri dengan penuh cinta bakti memberikan kepada mereka...

Maka datangilah mereka, uruslah semampumu,,, mereka butuh Tinggi Kasih sayang Tinggi Perhatian darimu-anaknya kandung-yang didik-disekolahkan-didoakan-dirawat....

Lihat mereka penuh kasih, sabarlah mengurus, karena _Murka Allah adalah murka mereka, Ridho Allah adalah Ridho mereka_

so TKTP lah pada ayah ibumu....
Birul walidain^^

Rabu, 13 Maret 2013

BaPia (Balon imPian)


            Pernahkah teman-teman mendengar tentang balon impian? Dulu pas tahun baru disebuah stasiun swasta menanyangkan mengenai berita luar negeri, nah di negeri X (afwan lupa nama negerinya) mengadakan suatu kegiatan yang meliputi semua warga negaranya, baik muda maupun tua untuk menuliskan impian atau cita-cita mereka ditahun 2013 pada sebuah lampion putih (ups bukan balon ya hehehe yang penting bentuknya bulat kayak balon). Nantinya pada saat pergantian tahun lampion itu dilepas serentak dilautan dan disaksikan bersama-sama seluruh warga...
            Wah...wah...wah menurut saya inspiratif juga, dengan menuliskan impian kita bersama-sama, otomatis kobaran semangat tiap individu akan mengalir deras membanjiri perasaan dan kekuatan tulisan impiannya. Sehingga hati, pikiran, jiwa pun serasa punya suplemen ajaib peningkat semangat mencapai impian. ^_^
            Ya kisah tentang balon impian (kali ini beneran balon loh ^^v) itupun ada pada kelas inspirasi milik teman-teman Indonesia Mengajar. Dimana tiap muridnya disuruh untuk menulis impian atau cita-cita pada sebuah balon.
            Bahkan dulu saat PPS alias program pengenalan study, kampus saya pun mengawalinya dengan menerbangkan balon impian. Jadi beberapa balon diikat dan ada tulisan tentang impian kampus saya.
            Tahukah teman? Ini hanya sebuah kegiatan simpel, murah, mudah... namun rasa yang tertoreh di hati hemmmm, jangan ditanyakan lllluuuuaaarrrr bbbiiiiaasaa. Kenapa? Why?
1. Ya karena ketika kita menulis, mengeluarkan luapan perasaan lewat tulisan maka diotak/pikiran akan terasa lega, ringan, hal ini kiranya mirip dengan saat kita curhat dengan teman kita (terasa lega bukan saat berbagi rasa hati).
2. Bukankah sesuatu yang dilakukan secara berjamaah lebih menyenangkan dan lebih bersemangat serta lebih terasa manfaatnya daripada sendirian. Contoh konkretnya solat, ketika kita solat berjamaah dimasjid terasa semangatnya, banyak bertemu teman, nambah kenalan, merasakan nikmatnya khusyuk bersama, insyaAllah dapat pahala 27 derajat pula.
            Maka dari itu balon impian adalah salah satu alternatif penyaluran perasaan kita akan keinginan/impian/cita-cita kita kedepannya.. Yuk bikin balon impian dan jangan takut kalau 1 impianmu belum tercapai bukan berarti balon impianmu melutus,, tenang masih ada impian-impianmu yang lain yang terbang bersama balon impianmu. Yuk gapai, jangan cuman dilihatin saja balonnya... tapi digapai, pegang erat, terbanglah bersamanya, dan gapailah impianmu hingga puncak tertinggi.....
            Ya! Aku, Kau, Kita bisa!!! Semangat ^^ Keep hamasah ^^V

Sabtu, 23 Februari 2013

Ijinkan Saya yang Meminta


Jelas sekali wajahnya muncul dalam mimpi saya. Dan ini untuk yang ke tiga kalinya. Yang membuat saya selalu terbangun tepat jam 03.00 WIB. Bersyukur karena mimpi itu justru membangunkan saya untuk sholat qiyamullail. Kalau mau meruntut mimpi itu pertama kali muncul usai saya dan beberapa teman BEM FMIPA menjenguknya karena sakit Hirschsprung (megacolon), penyakit yang sebenarnya lebih sering ditemui pada bayi. Sejenis penyakit karena kelainan kongenital pada kolon yang ditandai dengan tiadanya sel ganglion parasimpatis pada pleksus submukosus Meissneri dan pleksus mienterikus Auerbachi (afwan intinya jadi tidak bisa BAB, ribet njelasinnya kalau masih penasaran cari di internet saja), hingga membuatnya hampir 2 bulan tidak masuk kuliah. Padahal teman-temannya termasuk saya, di bulan-bulan itu sudah mulai sibuk setor muka dan setor proposal skripsi dihadapan dosen.
Kami sesama anggota BEM FMIPA, jadi resah akan nasib teman kami yang tidak kunjung kelihatan dan tidak kunjung ada kabar, terlebih lagi posisinya sebagai mantan ketua BEM FMIPA sedang sangat diperlukan untuk serah terima jabatan (sertijab) ke ketua BEM FMIPA yang baru. Akhirnya kami mulai curiga karena sms-sms yang tidak pernah dibalas bahkan telpon pun tidak pernah diangkat. Muncullah niatan untuk silaturahmi ke rumahnya, yang jujur cukup jauh dari kampus kami. Tadinya yang mau berangkat adalah 20 orang, tapi karena takut dikira mau demo jadi disusut menjadi 7 orang ikhwan. Kenapa 7? karena kata mereka biar kayak laskar pelangi. Hehehe ya sebenernya kami itu memang kadang geje orang-orangnya. Sip, 7 ikhwan tangguh itu pun melesat kerumahnya di daerah Sragen. Afwan sampai lupa memperkenalkan namanya, namanya Fikri Al-Farisi. Cukup akrab dengan dipanggil Faris, ibunya sangat mengidolakan sahabat nabi yang bernama Salman Al-Farisi dan dengan mengilhami itu maka terrcetuslah nama anaknya Fikri Al-Farisi yang berarti pemikiran Al-Farisi/Salman Al-Farisi. Begitulah kalimat mukaddimahnya saat mengawali rapat perdana BEM FMIPA dengan Faris sebagai ketuanya.
Singkat cerita sepulang mereka dari Sragen membawa kabar sedih bahwa Faris kena megakolon dan sekarang sedang di opname di RSI Yarsis Surakarta. Yap penyakit itu membuat tubuhnya menjadi kurus karena mau makan pun menjadi tidak nyaman, tapi Alhamdulillah pada saat kami menjenguk sudah dilakukan operasi dan masih perlu bedrest.
Ohya kembali lagi tentang kelanjutan mimpi saya. Jujur tidak pernah terbesit dalam hati ini memikirkan dia terlalu dalam, bahkan jatuh hati pun tidak. Saya tidak mengerti apakah ini karena rasa iba ataukah sesuatu yang lain. Selepas menjenguknya dari Rumah Sakit, saya memang merasa miris dan iba melihat orang yang terkenal konyol, cuek, PeDe namun sebenarnya memang punya karisma kepemimpinan itu kini terbaring lemah dengan tubuh yang semakin kurus, jujur kalau boleh berpendapat layak seperti marasmus, mungkin lemak, karbohidrat bahkan protein dalam tubuhnya hampir habis memenuhi energi untuk kebutuhan tubuhnya. Ya, selepas itu entah dari mana asalnya saya bermimpi menikah dengannya dan merawatnya.  Oke saya sadar mungkin saat itu adalah rasa keibaan saya yang berperan hingga membawanya kealam bawah sadar saya dan terwujudlah mimpi semacam itu.
Semula mimpi perdana itu saya hapus dari memori. Karena jujur saja cukup berpengaruh pada kehidupan nyata saya, jadi aneh dan terasa bagaimana gitu kalau mendengar namanya disebut teman saya. Namun perlahan memori mimpi itupun hilang meski masih terasa bekasnya karena begitu nampak nyata. Kesibukan akan penyusunan skripsi membuat saya tidak begitu mengambil hati tentang apa yang telah terjadi dalam bunga tidur saya. Tapi itu ternyata tidak bertahan lama.
            “Fi” panggil Jelita. Ya nama saya Lutfi, Annisa Lutfiya Izzah. “Tadi aku lihat Faris di perpustakaan?” lanjutnya.
            “Oh ya?” sahut saya singkat dan terkesan cuek.
            “Kok cuma oh ya sich.” protes Jelita. Saya kurang tahu sich perasaan Jelita ke Faris. Tapi kalau saya lihat Jelita itu cukup perhatian dengan kondisi Faris, sampai-sampai tahu cita-citanya begitu juga Faris yang nampak cukup memahami sifat Jelita yang terkesan melankolis. Mungkin mereka cocok. Tapi ya maklum dink, Faris kan ketua si Jelita Sekertaris jadi ya intensitas komunikasi tergolong sering. “Tapi aku suka semangatnya biar bisa cepet sidang skripsi. Dengan tubuhnya yang masih kayak orang maris, mari apa sich namanya roti mari?” tanyanya sembari melirik saya.
            “Marasmus neng Jelita cantik” jawab saya gombal.
            Iya jujur percakapan itulah yang mulai mengusik pikiran saya kembali tentang mimpi aneh 1 bulan yang lalu. Dan yang membuat saya tambah kikuk ketika koreksi beruntun dari dosen yang mengharuskan saya untuk berkunjung ke perpus. Padahal jelas 2 jam yang lalu Jelita cerita kalau Faris ada diperpus. Belum siap saya bertemu dengannya. Tapi mungkin juga tidak bertemu kan sudah 2 jam yang lalu.
            Perpus FMIPA tergolong cukup besar dan luas, bukunya juga seabrek, suasananya hening, namun kalau lagi bulan-bulan seperti ini jadi rame, ya 90% isinya mahasiswa tingkat akhir. Oke mantap dan bikin tambah pusing. Tapi memacu semangat juga sich karena lirik kanan kiri kebanyakan sudah sampai BAB 4 jadi semangat buat segera memperbaiki pembahasan.
            5 buah buku sudah saya letakkan di ruang baca yang rata-rata dihuni anak-anak muka kusut, saking serius dan pusingnya. Mending saya yang cuma ambil 5 buku ada tuh yang ambil 12 buku, entah mau disortir atau dibaca semua atau dijiplak semua biar jadi skripsi tertebal sekampus.
            Saat sedang asyik menyusun kalimat-kalimat pembuktian, ces laptop mati. Ya Rabb sampai lupa kalau baterai tinggal 15 persen, pakai acara tidak muncul pemberitahuan dulu sebelum mati, atau karena saking khusyuknya sampai tidak sadar ada pemberitaan dilayar laptop. Entahlah yang jelas sekarang harus pindah tempat sebelum kalimat-kalimat yang sudah tersusun diotak ini hilang.
            “Misi ya?” ucapku yang langsung menancapkan carger laptop di terminal listrik sebelah, hah sebelah siapa? Ya Rabb saking pusingnya sampai tidak sadar kalau didepan saya.....
            “Silahkan” sahut Faris yang tampak masih khusyuk dengan bacaannya.
            ‘Ya Rabb kenapa dia masih disini dan justru palah bertemu.’ gerutu saya dalam hati. Sungguh posisi yang tidak nyaman saat itu. Dan entah apa yang mengusiknya tiba-tiba konsentrasinya beralih ke arah saya.
            “Oh, Lutfi.” ucapannya itu membuat saya harus memasang senyum. “Sudah sampai bab berapa?” tanyanya lagi.
            “ Bab 4” sahutku. “ Antum sudah penelitiankan?” tanyaku lagi, jujur tak mengerti kenapa lisan ini bertanya semacam itu.
            “Alhamdulillah sedang merancang mohon doanya saja” sahutnya pelan. Masih nampak guratan sakit di wajahnya. Pucat dan lemah, dan sekarang harus berperang dalam laga skripsi ini.
            “Aamiin, Insya Allah.” jawabku singkat. Dan setelah itu dia pun pamit pulang dulu, memang sudah selayaknya dia istirahat dirumah pikirku.
♥♥♥
           
            Dua bulan setelah pertemuan singkat itu memang kami tidak pernah bertemu lagi, hanya sering kulihat dia keluar masuk ruang pak Farhan, dosen pembimbingnya. Alhamdulillah mimpi itu juga tidak kembali mengusik saya. Memang benar skripsi telah menyita pikiran yang menurut saya susah disandingkan dengan memikirkan dilema hati. Dan Alhamdulillah saya sudah selesai sidang. Lega....
            Sembari mengisi waktu menunggu wisuda saya memang dapat tawaran untuk menjadi guru privat anak SD kelas 4. Jelas tawaran itu langsung saya terima. Tawaran yang mungkin tak datang 2 kali. Waktu ini yang saya fokuskan bagaimana agar tidak terkesan menganggur. Jadilah alih profesi sementara menjadi guru les privat anak SD.
            Intensitas kehadiran saya dikampus memang sudah mulai berkurang. Namun entah kenapa mimpi ini kembali hadir. Ya lagi-lagi saya melihat dia dalam mimpi saya. Bukan hanya 1 kali tapi ini terulang menjadi 3 kali.
            “Saya heran mbak kenapa ya ikhwan itu kembali hadir dalam mimpi saya?” curhat saya kepada murrabi saya, mbak Aisyah.
            Beliau hanya tersenyum dan menjawab singkat “Kalau memang menganggu istikhorohkan saja.”
            Sebenarnya saya masih ingin bertanya panjang lebar, tapi teman-teman liqo’ mulai berdatangan. Malu juga kalau mereka mendengar curhatan saya. Tapi mungkin memang benar baiknya diistikhorohkan saja.  
♥♥♥
            Istikhoroh itu membawa satu jawaban, yang membuat saya masih tak percaya karena jawabannya adalah sekelebat wajahnya mengusik pikiran saya. Saya jadi teringat cara-cara untuk mendapatkan calon suami, salah satunya diperbolehkan melamar langsung.
            Izinkan saya mengutip kalimat yang terdapat dalam buku karangan Cahyadi Takariawan berjudul “Di Jalan Dakwah Aku Menikah”. Di zaman Nabi SAW seorang perempuan muslimah menawarkan dirinya kepada beliau, Tsabit Al-Bunani bercerita bahwa dia berada di dekat Anas r.a. dan disebelahnya ada anak perempuan Anas. Kemudian Anas berkata, “Seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW menawarkan dirinya seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau berhasrat kepadaku?” Maka puteri Anas berkomentar, “Betapa sedikit perasaan malunya.” Anas menjawab, “Dia lebih baik daripadamu, dia menginginkan Nabi lalu menawarkan diri kepada beliau.” (Bukhari).
            Makna dari hadist tadi adalah kebolehan seorang wanita untuk menawarkan diri kepada laki-laki saleh karena menyukai kesalehannya. Namun memang ini kurang lazim dilakukan oleh seorang wanita. Hem.... entah apa yang kini merasuki benakku. Dengan sengaja tertulislah kalimat ini dilayar HP.
Bismillahirrahmanirrahim...
Akhi bisakah kau menjadi imamku? Saya serius mengatakan ini. Ini bukan humor dan saya sadar mengatakannya. Saya memang tidak memikirkan antum terlalu dalam bahkan saya tidak mengerti mengapa antum hadir terus dalam mimpi saya. Saya sudah mengistikhorohkan semua ini. Antum tidak harus menjawabnya sekarang. Afwan.
Entah apa yang merasuki jiwa dan alam bawah sadar saya. SMS itu benar-benar terkirim ke no HP Faris. Ya Rabb. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Yang jelas saat itu justru yang hadir perasaan lega bukan penyesalan.
            Saya berharap Faris menganggapnya hanyalah sebuah pernyataan biasa yang tidak perlu difikirkan ataupun dibalas. Saya berharap Faris tidak menanggapinya. Atau entahlah apa yang akan terjadi. Yang jelas ini seperti sebuah keteledoran saya.
            Benarlah 1 hari kemudian HP saya bergetar, ada SMS rupanya. Dan Faris
 Bismillahirrahmanirrahim.....
Saya hanya manusia biasa yang tidak berhak memutuskan sesuatu tanpa seizinnya. Jodoh, rezeki, hidup mati sudah tertulis dalam Lauful Mahfuz. Ya Allah, engkaulah yang Maha Penguasa dan Maha Mengetahui sesuatu yang masih tersembunyi. Ya Allah pilihkanlah yang terbaik untuknya, pilihkanlah pendamping hidup yang baik untuknya. Aamiin. Afwan mungkin untuk saat ini bukan saya.
Sungguh bergetar hati saya membaca SMS Faris. Ya Rabb, ampuni hamba. Saya merasa bersalah akan ketidaksabaran dan ketergesa-gesaan sikap saya. Seharusnya saya bisa lebih bersabar. Sekarang dengan raut muka seperti apa yang akan saya tunjukkan ketika saya bertemu dengannya suatu saat nanti. Saya harusnya sadar semua ini tidak seharusnya dilakukan oleh akhwat seperti saya. Ya Rabb, malunya.....
♥♥♥
Jujur sampai saat ini, saya masih tidak percaya akan jawaban penolakannya secara halus. Namun saya sadar mungkin memang benar yang kemarin itu hanya bunga tidur, seharusnya tidak saya ambil sampai kehati. Ataukah mungkin yang kemarin itu adalah penjelmaan rasa saya, mungkinkah sebenarnya saya jatuh hati padanya sehingga muncul mimpi-mimpi semacam itu. Mungkinkah saat istikhoroh hati saya belum khusyuk dan masih didominasi olehnya sehingga yang muncul adalah dirinya. Astagfirullahaladzim.
♥♥♥
Langit hari sabtu ini begitu cerah, angin berhembus menyejukkan perasaan. Kicauan burung bersenandung merdu memeriahkan hari ini. Ini hari yang paling kami tunggu, wisuda. Auditorium kampus nampak ramai, ayah ibu kakak adik semua berkumpul menemai calon wisudawan/wati. Meriah sekali....
Wisuda adalah moment yang penting bagi kami, tapi untuk saat ini jujur saya cemas. Cemas karena sesuatu hal yang harusnya tidak perlu saya fikirkan.
Prosesi wisuda berjalan lancar dan menyenangkan. Tapi ini saya rasa sementara, karena setelah ini ada tantangan besar yang akan menunggu kita, ya berlomba-lomba mendapatkan pekerjaan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana wajah saya ketika menganggur dirumah. Semoga hanya sebentar masa menunggunya. Aamiin.
♥♥♥
5 bulan berpisah dari kampus. Memang benar saya sudah mendapat pekerjaan dan sempat menganggur selama 3 bulan, sungguh 3 bulan itu sudah serasa 1 tahun saja. Sikap ambisius saya inilah yang membuat saya tidak sabar terlalu lama dirumah. Namun, alhamdulillah kini saya berusaha untuk menjatuhkan cinta pada pekerjaan ini.
dddddrrrrrrtttttt.... HP saya bergetar, SMS dari Jelita.
            Assalamu’alaikum.... ukhtyku cantik...
           Eh kemana aja nich? sudah lama tidak mendengar kabarmu,, BTW udah ada yang melamar    belum? kalau mau nikah kabar-kabar ya? ^^
Membacanya membuat saya senyum-senyum tidak jelas. Nich anak, udah lama tidak SMS, tiba-tiba SMS begituan. Bikin galau saja...
Saya fikir itu hanyalah SMS biasa dari seorang sahabat yang sudah lama tidak bersua dan ternyata 5 hari kemudian Jelita SMS lagi.
Assalamu’alaikum cantik.....
Hari ini ada dirumahkan?
Langsung saya balas
Wa’alaikumsalam, ada sayangku,, mau main po?
Dan langsung dia balas
Mungkin yang lain yang mau mampir.
Hah, aneh apa sich maksudnya. Tapi tidak terlalu saya gubris karena kebetulan pulsa saya tinggal 200 perak. Tapi kalau dipikir-pikir aneh juga ya. Ganjil.
13.00 WIB. Minggu siang ini, saya memang tidak ada agenda penting, akhirnya menghabiskan waktu membaca buku di depan ruang tamu. Dalam kekhusyukan dan ke asyikan tentang apa yang sedang saya baca, terdengar suara motor. Tepat berhenti di depan rumah. Hmm, siapa ya?
“Assalamu’alaikum...” ucap tamu itu.
Tanpa berfikir panjang setelah memakai kaus kaki, saya buka pintu rumah. Rasanya seperti mendengar balon meletus saat melamu. Kaget, ya kaget. Ini siapa? Apa mata saya tidak salah melihat? Ataukah saya cuma berhalusinasi?
“Menjawab salam wajib kan ukht?” tanyanya lagi.
“Hah” sahut saya kikuk. “Wa’alaikumussalam” lanjut saya yang masih tidak percaya kalau yang berdiri dihadapan saya ini Faris. Fikri Al-Farisi. Orang yang dulu pernah saya minta menjadi imam. “Oh ya silahkan masuk dan duduk”
Dengan jiwa yang masih setengah bingung saya langsung meluncur ke dapur, membuatkannya minum dan mengajak keponakan saya yang masih berumur 3 tahun untuk ikut keluar. Biar ada muhrimnya gitu.
“Silahkan diminum.” ucap saya sembari tersenyum. “ Kok antum tahu rumah saya?” selidikku.
“Jelita yang ngasih tahu.” jawabnya santai sembari mengambil gelas.
Jujur saya bingung dan kikuk apa tujuan dia kesini dan apa yang harus saya katakan padanya. Rasanya seperti mimpi saja. Kalau boleh lari. Saya pasti sudah lari sekencang-kencangnya, biarlah dia disini sendiri. Tapi ini sungguh nyata. Saya harus menghadapinya. Ya Allah jujur saya masih malu dengan apa yang pernah terjadi diantara kami.
Hening, ya suasana berubah menjadi hening, cukup lama 10 menit. Akhirnya saya beranikan diri untuk bertanya.” Jadi antum kesini...”
“Iya afwan saya jadi bingung sendiri” serobotnya. “Bismillahirahmanirrahim” ucapnya sembari menghela nafas. “Afwan ukht, mungkin saya lancang kesini tanpa memberi kabar terlebih dahulu, saya cuma ingin membalas anti.”
Mendengarnya mukaku langsung berkerut. Apa? Membalas?
“Afwan, maksud saya membalas kenekatan anti yang telah membuat saya kaget.” lanjutnya.
“Soal itu, afwan, afwan jiddan.” ucap saya penuh penyesalan. “Mungkin saya terlalu lancang dan terlalu berani, atau saya yang tidak tahu malu” tambah saya penuh penyesalan.
“Justru saya berterimakasih pada anti, kalau anti tidak mengingatkan mungkin saya tidak terlalu menyadari semua ini” ucapnya. “Setelah anti mengatakan itu jujur saya tidak melakukan istikhoroh saat menjawabnya, yang terpikir dalam benak saya ini bukanlah pilihan tapi pertanyaan tantang dan keharusan. Tapi saya menyadari kelemahan diri saya ketidakmampuan saya waktu itu. Akhirnya sampai saya menemukan buku dan membacanya.” ucapnya sembari menghela nafas. “Yang intinya percakapan Rasulullah SAW dengan ‘Ukaf bin Wada’ah Al Hilali, tentang mengapa ‘Ukaf belum beristri padahal dia sehat lagi berkemampuan. “ urainya. “Lalu beliau bersabda bahwa golongan umat beliau adalah yang mematuhi perintahnya yaitu menikah bagi siapa yang telah mempunyai kemampuan untuk menikah. Orang yang paling durhaka diantara kalian adalah yang membujang, dan orang yang mati paling hina diantara kamu ialah kematian bujangan, maka menikahlah!” urainya panjang lebar. Ya nampaknya Faris telah menghafalkan dialek ini semalaman. Meskipun demikian saya hanya bisa menunduk mendengar penuturannya. “Oleh karena itu ukht, ijinkalah saya yang meminta!” tandasnya.
Sontak jantung saya berdetak tak karuan, saya pegang erat adik ponakan dalam pangkuan saya.
“Saya bukannya menolak anti, tapi saya merasa kurang lazim kalau anti yang mengatakannya, maka ijinkan saya yang meminta!” ucapnya lagi kali ini sangat menohok hati. “Anti belum dikhitbah kan?” tanyanya.
“Belum” jawab saya dengan nada agak serak. Jujur tangis saya ingin pecah saat itu.
“Kalau begitu, bismillahirahmanirrahim, saya datang kerumah anti untuk mengkhitbah anti.” tegasnya. “Selayaknya dulu anti memberi waktu, maka saya pun juga akan memberikan waktu pada anti untuk mengistikhorohkannya.”
Ya Allah, saya tidak pernah menyangka semua ini kembali lagi pada saya. Sekarang dia yang memintanya. Dia sungguh-sungguh memintanya, betapa salahnya saya atas ketidaksabaran saya waktu dulu. Ampuni saya Ya Allah.
♥♥♥
Saya sudah menjawab permintaanya lewat SMS, bahwa saya bersedia dan keluarga saya pun sudah saya beritahu dan mereka setuju. Dua minggu setelah itu dia kembali datang dengan membawa keluarga besarnya. Kami pun mulai membicarakan keseriusan niat dan jadilah satu bulan kedepan kami menikah.
♥♥♥
Subhanallah, indah memang dan selayaknya kita sebagai akhwat bersabar dalam penantian ini kalaupun tak kuasa bolehlah memintakan kepada wali kita untuk melamarkan seseorang untuk kita. Kisah Anisa Lutfiya Izzah bisa saja terjadi dikehidupan nyata, namun bisa saja hanya menjadi sebuah fiktif semata. Semoga Allah selalu memberikan kita terutama akhwat kesabaran dalam penantian ini. Aamiin. Isilah masa penantian ini dengan memperdalam ilmu agama, memperbanyak membaca, istikhomah tilawah Al-Qur’an, dan menambah hafalan. Wallahu’alam.
Hari triardiyanti♥♥♥

Jumat, 22 Februari 2013

Cermin dan Genangan air

Gumpalan awan hitam mulai mendominasi langit. Lama-kelamaan gumpalan awan itu menguap dan menjadi titik-titik air yang basahi bumi. Gemercik air hujan memacu sebagian orang untuk mempercepat laju kendaraannya. Begitu pula dengan diriku, aku mulai mempercepat langkah kakiku menuju halte bis. Ehm, halte ini tampak telah berumur. Besinya telah berkarat dan nampak kurang terurus. Namun, tak apalah setidaknya bisa digunakan untuk berteduh sementara.
Ku kira, aku akan menjadi penghuni tunggal halte ini, namun ternyata datang seorang laki-laki yang berumur sekitar 35 tahun yang diekor oleh anaknya yang berumur sekitar 10 tahun. Laki-laki dengan baju batik berwarna biru itu nampak sibuk membersihkan rambut anaknya yang terguyur hujan. Pemandangan yang nyaris membuatku miris. Sebenarnya aku sangat rindu kasih sayang ayah, tapi ya sudahlah tak perlu ku buka lagi lembar lama.
“Bagaimana perjalanan kita hari ini?” tanya laki-laki itu sembari menatap sayang anaknya. “Kau senang kan, nak?”
“Iya, Yah, aku senang sekali!” ucap anak itu sembari tersenyum bahagia. “Tapi, kenapa kita harus mengunjungi rumah sakit jiwa?” tanya anak itu  polos.
Aku langsung tersentak mendengar kalimat terakhir anak itu. Sesuatu yang aneh. Tapi, aku jadi penasaran apa yang selanjutnya akan mereka perbincangkan. Spontan langsung ku pertajam pendengaranku.
“Kau tahu nak, bagaimana keadaan orang- orang disana?” tanya laki- laki itu.
 “Mereka terlihat bahagia, namun ada juga yang terlihat sedih, dan ada juga yang tiba-tiba mengamuk.” Jawab anak itu.
“Kau tahu, kenapa seperti itu?”
“Kata dokter, beban mental, tapi aku masih tidak mengerti maksud dokter?”
“Dengarkan ayah baik-baik ya, nak!” ucap laki- laki itu sembari merangkul anaknya. “Nak, dibalik hitam selalu ada putih dan dibalik putih tidak mungkin ada hitam, jika pun ada pasti akan membuat warna putih menjadi terlihat hitam, meski warna hitam itu hanya setitik!” jelasnya.
“Aku tak mengerti, Yah?” ucap anak itu polos.
“Ini, ayah punya kertas putih, coba saja kau coret, kau gambar sesukamu!” perintah laki- laki itu sembari memberikan selembar kertas HVS kepada anaknya. Anak dengan baju bergambar mobil itu, nampak masih bingung dengan apa yang dikatakan ayahnya. “Ayo, bukankah kau suka menggambar, nak? Tunjukkan pada ayah bakatmu itu!” dukungnya. Meskipun telah diberi dukungan, anak itu nampak masih bimbang untuk menggambar.
“Benar nich Yah, aku boleh menggambar?” tanya anak itu  polos.
“Ya bolehlah!” jawab laki-laki itu, semangat. “Kalau Hamif punya bakat salurin aja, jangan dipendam, nanti kalau dipendam bisa-bisa bakatnya hilang loh!”
“Memang bisa Yah?”
“Ya, bisalah nak!” ucap laki-laki itu meyakinkan. “Bakat itu memang sesuatu yang terpendam dalam diri, tapi jika dipendam terus tidak akan bisa berkembang. Contoh nyatanya, Hamif. Hamif kan bisa menggambar, tapi kalau Hamif gak pernah mau latihan menggambar, ya Hamif tetap bisa menggambar, tapi gambarnya biasa saja. Jadi ya karya Hamif tetap berkategori sedang, tapi kalau Hamif mau latihan terus, nanti Hamif bisa ngrasain gimana bikin gambar yang bagus. Istilahnya, Hamif bisa mengukur takaran yang harus dipakai karena Hamif udah belajar dari kesalahan-kesalahan yang Hamif lakukan pada waktu yang lalu.” Jelasnya panjang lebar. “Ya udah, sekarang Hamif gambar aja!” suruhnya.
Anak bernama Hamif itu mulai membuat gambar, coretan-coretan halus yang merupakan sketsa gambar cangkir. Beberapa detik kemudian, sketsa itu menjadi sebuah coretan tegas menyerupai gambar cangkir yang disekelilingnya terdapat tumpahan air. Gambar itupun diasir dengan pensil. Dan kini terciptalah karya beraliran naturalisme. Menurutku, sebuah gambar yang bagus, untuk anak seumurannya.
Hamif langsung memperlihatkan buah karyanya pada ayahnya.
“Bagus,” puji laki-laki itu. “Tahu tidak nak, sebelum kamu gambar, kertas ini berwarna putih, tanpa noda hitam. Nah, setelah kau gambar kertas ini menjadi coretan-coretan noda hitam, tapi ada dua noda hitam, yang pertama noda hitam dengan hasil karya yang indah dan yang kedua noda hitam dengan hasil karya yang jelek.” Jelasnya. “Noda hitam dengan hasil yang indah ataupun jelek itu adalah pencerminan diri kita yang mampu dirasakan atau dilihat orang lain. Jika kita mencoret menjadi noda hitam dengan hasil yang indah, nah itu sifat baik yang kita pancarkan keluar. Tapi jika kita mencoret menjadi noda hitam dengan hasil yang jelek berarti sifat yang terpancar adalah sifat buruk kita. Dan baik buruknya seseorang itu tergantung pada empunya. Jika dia ingin baik, buatlah karya yang mempesona, tapi jika ingin jelek, ya buatlah menjadi jelek. Sedangkan putih itu adalah sifat kita sesungguhnya.” Tambahnya panjang lebar. “Maka dari itu nak, janganlah lihat seseorang dari sudut depannya saja, tapi dari sudut dalamnya juga. Dan kamu juga jangan menilai seseorang dari sisi subjektifmu saja, tapi juga dari penilaian mereka terhadap diri mereka sendiri!” nasehatnya.
“Terus apa hubungannya dengan orang gila tadi, Yah?” tanya Hamif.
“Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan orang gila tadi, tapi ada hubungannya dengan penilaianmu terhadap orang gila tadi!” jawab laki- laki itu sembari menyentuh hidung Hamif dengan jari telunjuknya.
“Berarti, maksud ayah, aku hanya melihat mereka dari sisi depan saja, belum ke sisi dalam?” tanyanya lagi.
  “Iya, mungkin memang benar mereka terlihat bahagia dan kadang sedih bahkan mengamuk, dan memang benar pula kata dokter kalau mereka punya beban mental yang terlalu berat, tapi pernahkah kita berfikir untuk tahu apa masalah yang menjerat perasaan mereka?” Dan setelah mendengar pertanyaan ayahnya, Hamif langsung menggelengkan kepala. “Nah, itulah fungsi kita melihat seseorang bukan hanya dari sisi kita, tetapi juga dari sisi diri mereka sendiri. Kita sebenarnya terlalu egois, memikirkan segala sesuatu itu dari apa yang kita lihat dan apa yang kita rasa, tapi jarang sekali kita ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi!” jelasnya.
‘Terus apakah kita harus selalu ingin tahu masalah orang?” tanya Hamif lagi.
“Ya, bukan seperti itu maksud ayah!” jawabnya sembari menghembuskan nafas. “Ayah menasehatimu seperti ini agar kamu tidak selalu menjudgement atau memberikan penimbangan atau pendapat selalu dari sisi kamu, tapi juga dari sisi orang itu sendiri. Dan itu banyak caranya, seperti, kamu membayangkan berada diposisi dirinya. Contohnya, guru Hamif memberikan PR, tapi kebetulan baru sekali itu saja PR tidak dicocokan, padahal Hamif sudah berusaha dengan semangat 45 untuk mengerjakan PR. Pastinya Hamif sebelkan dan akhirnya Hamif tidak suka ma beliau.” ucapnya sembari mengelus pundak Hamif. “Itu namanya penilaian dari sisi Hamif, padahal asal Hamif tahu, tugas guru itu banyak, bukan hanya sebatas mengajar dan meneliti Ulangan dan PR, tapi juga merekap nilai, membuat laporan kegiatan belajar mengajar, ya kalau Hamif tahu kerjaan guru tuh numpuk, kan Hamif jadi paham dan tidak sebel lagi ma tu guru.”
“Iya, Yah, Hamif ngerti!”
“Tapi sebenarnya, ayah ingin kamu tidak hanya bisa memahami orang, tapi juga memahami dirimu sendiri!” nasehatnya. “Dan cara untuk memahami dirimu sendiri salah satunya, kamu jangan hanya sedia cermin, tapi juga sedia genangan air!” tambahnya.
Aku terhenyak mendengar kalimat terakhir laki- laki itu, sebenarnya aku masih binggung apa yang dia maksud dengan tidak hanya sedia cermin, tapi juga sedia genangan air. Kini aku terhanyut dengan pemikiranku sendiri. Dan tanpa sadar laki- laki itu dan anaknya telah pergi meninggalkanku. Ternyata hujan telah reda.
Aku berlenggang dari halte dan melangkah menulusuri jalan setapak. Dan diriku masih dikuasi oleh pemikiranku, yang entah akan berlabuh kapan dan dimana. Semilir angin dingin menusuk pori-pori kulitku, menengakkan bulu kudukku. Hem, kalau sudah seperti ini, rasanya ingin cepat sampai rumah. Namun sepertinya aku harus menepis semua pemikiran tentang rumah, aku masih ada tanggungan untuk melihat nilai hasil semesteranku. Kalau ingat hal ini, jantungku jadi berdetak dengan kencangnya. Rasa takut, cemas, penuh harapan, berkecambuk dalam lubuk hatiku. Ku rasa usahaku lebih maksimal dari tahun lalu, dan aku yakin hasilnya pun lebih baik, meski aku tahu, soal- soal kelas 12 jelas lebih tinggi tingkat kesulitannya dibanding kelas 11 dan kelas 10. Tapi aku tetap harus optimis, ini semester terakhirku di SMA.
Tak sampai se per 4 jam, aku sudah sampai depan gerbang sekolah. Dan kini jantungku berdetak lebih kencang, 5 kali lipat dari yang tadi. Entahlah apa yang akan terjadi nanti, yang jelas kini aku pasrah, tapi hatiku masih rajin berdoa untuk keberhasilanku. Langkahku kini justru semakin lambat, rasanya tubuhku menjadi lemah, tak berdaya. Tapi aku tidak boleh seperti ini, aku harus maju dan berani hadapi kenyataan, sekalipun itu pahit.
Sekolah sepi, hanya segelintir anak yang nampak masih betah menghuni sekolah. Entahlah apa yang mereka kerjakan, yang jelas semua itu tak penting bagiku, yang terpenting bagiku adalah bergegas menuju papan pengumuman.
Daftar nilai belum lengkap, hanya ada Geografi, Sejarah, dan PKn, PKn? Melihat tulisan itu, mataku langsung tertuju pada daftar nilai anak kelas 12 IPA, Alhamdulillah, dapat nilai 85. Namun disebelah daftar nilai PKn, ada daftar nilai Matematika. Melihat nilai Matematikaku, aku langsung lemas, nilaiku 55. Padahal kemarin aku dah semangat belajar, dari mengerjakan LKS, belajar catatan, sampai latihan soal semesteran, dan rasanya kemarin aku bisa mengerjakan, bahkan aku sempat optimis nggak remidi. Tapi angka kembar itu (55) rasanya telah memutuskan harapanku.
Perasaanku kini bercampur aduk, tak karuan, entahlah! Aku kecewa, sedih. Dulu pas kelas 10 juga begini dan kelas 11 begini juga terus sekarang kelas 12 kenapa remidi juga? Aku masih tak mengerti, ingin sekali aku merobek kertas daftar nilai itu, jujur aku bukan hanya sedih, tapi juga malu, namaku terpampang jelas di papan remidi Matematika. Tapi ya, sudahlah, semua udah terjadi, kalaupun aku sobek hingga tu kertas tak berbentuk, tetap saja nilaiku belum tuntas.
Kini aku mencoba untuk tetap kuat hadapi kenyataan. Dan bergegas meninggalkan sekolah ini, mungkin suatu pilihan yang baik untukku. Namun baru beberapa langkah, langkah kakiku terhenti, masih ada daftar nilai lagi. Fisika, aku langsung mendekatinya, tapi dengan mata tertutup, aku mencoba untuk menenangkan pikiranku. Tak sampai 10 detik, aku langsung membuka mataku, aku masuk daftar remidi lagi, nilaiku 60. Aku nggak pernah nyangka, ini seperti mimpi buruk! Sungguh aku ingin lekas bangun, tapi ini bukan mimpi, ini kenyataan, yang mau tak mau harus aku hadapi.
Aku masih berada dalam alam sadarku, dan aku pun sadar kalau aku ini seorang laki- laki. Dan laki- laki bukanlah tipe orang yang cengeng, aku harus kuat. Tapi ini baru hari pertama, aku sudah panen 2 mapel yang siap diremidi. Huff, bagaimana dengan yang lain? Cukup! Aku nggak tahan lagi dengan semua pemikiran ini. 2 mapel itu adalah salah 2 mapel UNAS, ya Rabb! Iya, aku tahu semua itu, tapi sudahlah, percuma saja menyesali sesuatu yang tak bisa kembali.
Aku melangkah lemas keluar dari sekolah. Mimpi buruk ini akan berakhir, pasti. Tapi aku benci dengan semua ini. Aku sangat malu dengan teman-teman sekelasku, mereka sangat pandai akhir-akhir ini, dan aku, rasanya masih sulit untuk mengimbangi mereka. Apa yang harus aku lakukan? Apakah perjuanganku hanyalah sebuah kesia-siaan belaka? Aku tahu dengan pasti nggak ada yang sia-sia, tapi ini benar-benar memojokkan dan menyakitkanku. Dan aku tahu dengan pasti, ada 2 insan yang menumpukkan harapan padaku, ya ayah dan ibuku. Pertanggungjawaban seperti apa yang harus aku suguhkan untuk mereka? Aku tak ingin kecewakan mereka! Aku juga tak ingin sia-siakan setiap tetesan keringat, kerja keras mereka untuk menyekolahkanku! Tapi, apa yang terjadi hari ini serasa menyobek harapanku. Nggak! Aku nggak boleh putus asa, remidi bukanlah akhir dari perjuanganku. Aku masih harus menempuh UAS, UNAS, UMPTN, SMPTN, ya aku harus bangkit! Bagaimanapun caranya, aku harus bisa! Aku harus semangat, aku pasti bisa!
Semilir angin menyapaku, membuatku teringat kata-kata Dayat.
“Heran aku ma kamu, apa yang kurang dari kamu, udah rajin puasa Senin-Kamis, rajin Dhuha, Sholat 5 waktu bahkan di tambah sholat Rowatib, tapi kok untuk urusan nilai, kayaknya belum dikasih kemudahan! Padahal kamu belajarnya rajin, tapi tenang Kri, semakin tinggi level keimanan dan ketaqwaaan, semakin besar pula ujiannya!”
Entahlah, kata-kata dayat itu, memang tak tertata dengan rapi, tapi aku mengerti apa maksudnya. Mengapa Dayat melihatku begitu indah, dia sepertinya terpesona dengan pancaran keindahan yang tercoret pada noda hitam di diriku, tapi dia belum melihat noda putih yang tersembunyi dalam. Aku baru menyadari kalau laki-laki itu (yang ada di halte tadi) telah mengajariku tentang arti putih, dulu kukira putih melambangkan kesucian, pokoknya hal-hal dan sifat yang baik, tapi warna putih dalam kehidupan itu beda, nggak seperti warna putih biasa, warna putih kehidupan memancarkan dua warna, putih jernih yang melambangkan orang baik dan putih keruh yang melambangkan orang yang punya sifat baik, tapi tertutupi oleh sifat buruknya.
Pyuk...., kakiku menginjak genangan air. Kulihat bayanganku disana, tak nampak jelas, tapi ini bayanganku yang sesungguhnya! Ya! Genangan air itu menampilkan guratan hitam bayang diriku, tapi juga mampu tampilkan sisi terang bayangan diriku, meski tak sejelas cermin. Tapi aku tahu, kalau itu bayanganku. Genangan air memang tak mampu menampilkan bayangan wajahku secara jelas, tapi dia mampu menampilkan sisi terang dan sisi gelap diriku. Dia adalah cermin kehidupan yang sesungguhnya! Cermin yang membuatku sadar kalau selama ini aku terlalu terlena dengan cermin jernih yang terbuat dari kaca, hingga aku abaikan cermin keruh yang hanya genangan air.
Aku mampu melihat betapa busuknya diriku! Aku baru sadar, selama in aku terlalu sibuk dengan cermin dari kaca yang merupakan penjelmaan dari tiap tanggapan orang tentang diriku. Aku selalu bercermin lewat tanggapan baik saja dan aku lupa akan siapa sebenarnya diriku. Aku terlalu mengabaikan genangan air yang menampilkan segala kebenaran tentang diriku. Sekarang aku paham dengan kata- kata lelaki tadi. Aku juga mengerti kenapa kegagalan ini harus menimpaku, karena aku terlalu sibuk dengan keindahan diriku, sehingga ku lupakan keburukan yang bersemayam dalam diriku. Aku terlalu bangga dengan pujian orang, sehingga aku tak mampu melihat kelemahan dan kesalahanku. Jadi, selama ini aku sangat sombong. Astagfirullahaladzim, berani-beraninya diriku memakai selendang Tuhanku. Ternyata memang benar keindahan itu laksana topeng kehidupan yang harus segera ku lepas, aku harus maju tanpa topeng! Aku harus buang topeng ini jauh- jauh!
Brzzt...., sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan parahnya, aku terkena cipratan genangan air itu. Hampir saja aku mengumpat pengemudi tadi, tapi aku sadar ini semua pantas untuk ku terima. Bahkan ini semua bukanlah balasan yang sebanding atas apa yang diriku lakukan selama ini.

Maafkan khilafku Allah....            
                                                                                                                               Hari triardiyanti♥♥♥
♥♥