Afwan ya ada-ada aja singkatan saya ini... BASAH (BerkAh SedekAH)
jujur saya tidak ingin banyak menulis,,, karena saya yakin banyak kok dari antum sekalian yang pernah merasakan berkahnya.... saya justru mengajak antum sekalian comment dan berbagi cerita pengalaman mengenai berkah sedekah ini..... bukan buat ajang riya tapi buat penyemangat teman-teman lain buat sedekah....
Mengutip sebuah ayat dalam AL-Qur'an surah Al-Baqarah : 265
"Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun-kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
Sungguh masih banyak ayat-ayat lain mengenai sedekah.... namun baru membaca satu ayat itu saja sudah membuat saya takjub... Subhanallah,,, Allah sungguh tidak akan menyia-nyiakan kebaikan kita meski seberat zarrah. (baca Al-Zalzalah : 7)^^
Kalau antum sering mendengar ceramah ustad Yusuf Mansyur tentang sedekah... pasti antum sudahlah lihat contoh-contoh orang-orang yang sukses karena sedekahnya, kedermawanannya....
Bahkan Ummul Mukminin, Aisyah ra. juga merupakan orang yang gemar sedekah....
Aisyah kerap lebih mengutamakan pengemis daripada dirinya sendiri yang sedang berpuasa. Suatu hari ketika Aisyah sedang berpuasa, seorang pengemis mendatanginya. Saat itu hanya ada sepotong roti dirumahnya. Maka Aisyah berkata kepada pelayannya, "Berikah roti itu kepadanya?"
"Akan tetapi, engkau tidak memiliki sesuatu untuk kau makansaat berbuka puasa nanti selain roti tersebut," jawab sang pelayan.
"Berikan saja roti itu," perintah Aisyah sekali lagi.
"Baiklah," jawab sang pelayan.
Sore hari, menjelang waktu berbuka tiba, Aisyah menerima hadiah berupa daging kambing berikut rotinya. Maka ia memanggil sang pelayan dan berkata, "Makanlah! Ini lebih baik daripada rotimu tadi. (HR Malik)
Subhanallah..... harta yang engkau sedekahkan takkan berkurang,, justru semakin bertambah ^^.
Be positif thinking and keep hamasah^^ Selamat Menikmati Sensasi Ditiap Bacaannya ^^
Motisakti
Sabtu, 04 Mei 2013
Kamis, 04 April 2013
KAWAT (KArena akhWAT)
Ups... afwan kalau ada yang kurang berkenan dengan singkatannya kok KAWAt sich? hehhehe....
Saya tidak akan membahas singkatan yang mau saya uleg-uleg itu akhwat...
Hemmm,, ada apa dengan akhwat....
Dulu saat menjadi pengajar di sebuah SD swasta, saya tergelitik berfikir kenapa ya wali kelasnya akhwat semua? kenapa ya pengajarnya hampir 80% akhwat? Kenapa gak dicoba ikhwan jadi wali kelas? dulu pernah tuh waktu saya masih SD, wali kelasnya ikhwan, pas SMA juga... hmm....
Begitu juga saat saya nimbrung mbantu-bantu TPQ, gurunya juga banyak akhwat. saat saya tawarkan ke kepala sekolahnya yang juga akhwat tentang penambahan personil guru, beliau menyarankan ditambah guru akhwat aja?
Loh kenapa??? Ya dan pertanyaan kenapa itu akhirnya keluar dari muut saya. Dan jawaban beliau karena akhwat lebih telaten, karena akhwat punya jiwa keibuannya, dia lebih bisa halus menyayangi dan cenderung berusaha untuk mengajarkan tutur bahasa yang salih. (dengan sedikit editan saya)
Wao.... hemm,, kalimat jawaban yang mungkin bikin GR akhwat sedunia.
Iya memang benar, kembali lagi ke SD, di SD itu macem-macem perniknya anak nangis, ngompol, muntah, sakit.... hem,, memang akhwat lah yang jago dan paling pas menangani hal ini. Tangan halus dengan jiwa penuh kasih sayangnya lah yang paling bisa meluluhkan dan menenangan kondisi psikis anak.
_benar karena akhwat lebih mengedepankan perasaan,, dan karena akhwat terlahir dengan jiwanya yang lembut_
Subhanallah bangga saya jadi akhwat...
Akhwat adalah madrasah pertama untuk anaknya kelak, dialah yang mengajari anaknya untuk mengucap A, B, C, D, dialah yang dengan lembut menidurkan anaknya...dalam gendongan sang ibu, anak pun merasakan kenyamanan, maka dia tenang dari tangisnya....
Bahkan ketika ditanya, siapa orang yang harus kita hormati Rasulullah SAW sampai tiga kali menjawab ibu, ibu, ibumu.... subhanallah
Saya tidak akan membahas singkatan yang mau saya uleg-uleg itu akhwat...
Hemmm,, ada apa dengan akhwat....
Dulu saat menjadi pengajar di sebuah SD swasta, saya tergelitik berfikir kenapa ya wali kelasnya akhwat semua? kenapa ya pengajarnya hampir 80% akhwat? Kenapa gak dicoba ikhwan jadi wali kelas? dulu pernah tuh waktu saya masih SD, wali kelasnya ikhwan, pas SMA juga... hmm....
Begitu juga saat saya nimbrung mbantu-bantu TPQ, gurunya juga banyak akhwat. saat saya tawarkan ke kepala sekolahnya yang juga akhwat tentang penambahan personil guru, beliau menyarankan ditambah guru akhwat aja?
Loh kenapa??? Ya dan pertanyaan kenapa itu akhirnya keluar dari muut saya. Dan jawaban beliau karena akhwat lebih telaten, karena akhwat punya jiwa keibuannya, dia lebih bisa halus menyayangi dan cenderung berusaha untuk mengajarkan tutur bahasa yang salih. (dengan sedikit editan saya)
Wao.... hemm,, kalimat jawaban yang mungkin bikin GR akhwat sedunia.
Iya memang benar, kembali lagi ke SD, di SD itu macem-macem perniknya anak nangis, ngompol, muntah, sakit.... hem,, memang akhwat lah yang jago dan paling pas menangani hal ini. Tangan halus dengan jiwa penuh kasih sayangnya lah yang paling bisa meluluhkan dan menenangan kondisi psikis anak.
_benar karena akhwat lebih mengedepankan perasaan,, dan karena akhwat terlahir dengan jiwanya yang lembut_
Subhanallah bangga saya jadi akhwat...
Akhwat adalah madrasah pertama untuk anaknya kelak, dialah yang mengajari anaknya untuk mengucap A, B, C, D, dialah yang dengan lembut menidurkan anaknya...dalam gendongan sang ibu, anak pun merasakan kenyamanan, maka dia tenang dari tangisnya....
Bahkan ketika ditanya, siapa orang yang harus kita hormati Rasulullah SAW sampai tiga kali menjawab ibu, ibu, ibumu.... subhanallah
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapih selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, "Ya tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dap[at mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat baik jika Engkau ridai, dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh aku bertaubat kepad Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim." (QS. Al-Ahqaf:15)
Subhanallah... saya bangga terlahir sebagai akhwat....^^
*)speechless
Senin, 01 April 2013
Pelangi Kehidupan ^^
Saya rasa hidup ini selalu memberikan suprise dari hari ke harinya, apa yang saat ini terjadi tak dapat kita terka waktu kemarin, apa lagi apa yang lusa terjadi.. Sulit untuk menerka semua ini...
Hidup ini memang penuh suprise....
Suprise itu bagaikan pelangi kehidupan.... Karena suprise-nya akan menghantarkan kita pada ekspresi wajah dan ekspresi hati yang beragam....
sedih-bahagia-tawa-marah-kecewa-....
Jadi ijinkan diri kita menikmati pelangi kehidupan yang akan mengantarkan pada pendewasan dan kekokohan keyakinan pada Sang Maha Rahman.... ^^
Hidup ini memang penuh suprise....
Suprise itu bagaikan pelangi kehidupan.... Karena suprise-nya akan menghantarkan kita pada ekspresi wajah dan ekspresi hati yang beragam....
sedih-bahagia-tawa-marah-kecewa-....
Jadi ijinkan diri kita menikmati pelangi kehidupan yang akan mengantarkan pada pendewasan dan kekokohan keyakinan pada Sang Maha Rahman.... ^^
Rabu, 20 Maret 2013
TKTP (Tinggi Kasih sayang Tinggi Perhatian)
Kalau di ilmu gizi TKTP itu singkatan dari Tinggi Karbohidrat Tinggi Protein sekarang ijinkan saya ganti ya jadi Tinggi Kasih sayang Tinggi Perhatian.... hehehe
Pernah mengurusi kakek nenek yang sakit,, atau paling dekat dengan kita saja lah,, pernah mengurusi Orang tua yang sakit... jujur saya pernah. kalau kalia... yang sudah pernah silahkan ngacung hehehe...
Bagaimana rasanya? capek atau malah risik mendengar keluh kesahnya? atau malah males dengan semua perintahnya yang inilah itulah?? # jujur ini bukan curhat loh ya,, saya lagi ALis (Asal tuLis) ^^
Iya meskipun bukan berniat curhat, tapi saya akui ketika ortu sakit memang tenaga dan hati sedikit berbeda. Kadang saat kita mau tidur, baru mau merebahkan tubuh, eh beliau teriak minta ini itu...
Kadang saat kita mau membaca, eh datang lagi panggilan ini itu.....
Capek ya? Kesel? Jengkel? Dongkol?
Saya yakin, afwan bukan men-judment, tapi saya yakin pasti dalam hati pembaca ada yang berteriak keras TENTU/PASTI
Wajar kok...
Tahu kah kalian orang yang sakit ketika dia mengeluh dengan suara keras misal bilang "DUH GUSTI"... "ASTAGFIRULLAH"... percayakah kalian saat itu psikologisnya alias kondisi batinnya sedang ingin diperhatikan, ingin dirawat, ingin ditanya, atau paling enggak ingin ditunggu....
Sama dengan saat kita sedang ada masalah, langsung update status di wall, intinya curhat, nanti banyak comment langsung membung hati, kalau gak ada comment cuma mringis,, hehehe
Sebenarnya kondisi hati sudah tidak terlalu parah tapi ingin saja mengutaran, ingin dapat dukungan moril penguat hati, dll
Ya, sama kan berarti memang saat sedih-sakit-galau memang masa dimana kita butuh Tinggi Kasih sayang Tinggi Perhatian istilahnya TKTP
Sekarang saya akan mengajak teman-teman semua untuk kembali ke ingatan masa lalu saat kita masih kecil...
Apa yang kita lakukan pada ortu kita, Kita pun juga butuh TKTP dari ortu dan sungguh merepotkan.....
saat ibu kecapekan dan terlelap tidur tiba-tiba kita nangis, ternyata buang air kecil, ibu ganti popok.
selesai ganti popok kita kembali terdiam, ibu pun bisa tidur,
saat beberapa menit tidur, kita nangis lagi, giliran ayah terbangun, ternyata digigit nyamuk terpaksa ayah meninabobokan kita, mengendong kita hingga benar-benar tertidur pulas.
Jam 2 malam kita menangis lagi, ternyata lapar....
Begitu terus dan itu bukan hanya berlangsung saat kita bayi-sedewasa inipun kita sering menyusahkan, minta dibelikan HP model terbaru, minta dibelikan laptop, minta motor, minta ini itu....
Dan saat kita sakit-rewel-berada didalam kamr tak mau keluar- bertapa orang tua sangat berperan dalam memberikan TKTP, tanpa kita kode/pinta.....
luuaar biasa... bayangkan betapa sabarnya ortu kita dalam menghadapi kita.....
Nah sekarang saya balik ya....
Kini roda kehidupan telah berputar, ortu kita tidak sekuat dulu, sakit, lemah, dan membutuhkan perawatan.... siapa yang mau merawatnya? pembantu kita-perawat yang dibayar dengan gaji tinggi-atau parahnya lagi dirawat oleh pegawai Panti Tuna Wreda.... semoga kita tidak sampai setega itu (aamiin)
Coba saya balik tanya... saat kita bayi, siapa yang menganti popok? siapa yang menyusui? siapa yang meninabobokan saat kita rewel tiada henti? siapa yang menyuapi kita? siapa yang membantu kita berjalan? siapa yang membelikan sepeda roda tiga? siapa yang mengajari mengayuh sepeda?
Saya yakin hati kecil kalian akan berkata ayah bunda - papa mama - romo biyung - umi abi.....
Apakah kita masih mau berkata capek mengurus mereka sedangkan belasan tahun-puluhan tahun kita diurus mereka, dan mereka tak pernah protes, bahkan tidak meminta imbal balik, adakah orang tua yang meminta gaji pertama anaknya? saya rasa tidak ada, justru kita sendiri dengan penuh cinta bakti memberikan kepada mereka...
Maka datangilah mereka, uruslah semampumu,,, mereka butuh Tinggi Kasih sayang Tinggi Perhatian darimu-anaknya kandung-yang didik-disekolahkan-didoakan-dirawat....
Lihat mereka penuh kasih, sabarlah mengurus, karena _Murka Allah adalah murka mereka, Ridho Allah adalah Ridho mereka_
so TKTP lah pada ayah ibumu....
Birul walidain^^
Pernah mengurusi kakek nenek yang sakit,, atau paling dekat dengan kita saja lah,, pernah mengurusi Orang tua yang sakit... jujur saya pernah. kalau kalia... yang sudah pernah silahkan ngacung hehehe...
Bagaimana rasanya? capek atau malah risik mendengar keluh kesahnya? atau malah males dengan semua perintahnya yang inilah itulah?? # jujur ini bukan curhat loh ya,, saya lagi ALis (Asal tuLis) ^^
Iya meskipun bukan berniat curhat, tapi saya akui ketika ortu sakit memang tenaga dan hati sedikit berbeda. Kadang saat kita mau tidur, baru mau merebahkan tubuh, eh beliau teriak minta ini itu...
Kadang saat kita mau membaca, eh datang lagi panggilan ini itu.....
Capek ya? Kesel? Jengkel? Dongkol?
Saya yakin, afwan bukan men-judment, tapi saya yakin pasti dalam hati pembaca ada yang berteriak keras TENTU/PASTI
Wajar kok...
Tahu kah kalian orang yang sakit ketika dia mengeluh dengan suara keras misal bilang "DUH GUSTI"... "ASTAGFIRULLAH"... percayakah kalian saat itu psikologisnya alias kondisi batinnya sedang ingin diperhatikan, ingin dirawat, ingin ditanya, atau paling enggak ingin ditunggu....
Sama dengan saat kita sedang ada masalah, langsung update status di wall, intinya curhat, nanti banyak comment langsung membung hati, kalau gak ada comment cuma mringis,, hehehe
Sebenarnya kondisi hati sudah tidak terlalu parah tapi ingin saja mengutaran, ingin dapat dukungan moril penguat hati, dll
Ya, sama kan berarti memang saat sedih-sakit-galau memang masa dimana kita butuh Tinggi Kasih sayang Tinggi Perhatian istilahnya TKTP
Sekarang saya akan mengajak teman-teman semua untuk kembali ke ingatan masa lalu saat kita masih kecil...
Apa yang kita lakukan pada ortu kita, Kita pun juga butuh TKTP dari ortu dan sungguh merepotkan.....
saat ibu kecapekan dan terlelap tidur tiba-tiba kita nangis, ternyata buang air kecil, ibu ganti popok.
selesai ganti popok kita kembali terdiam, ibu pun bisa tidur,
saat beberapa menit tidur, kita nangis lagi, giliran ayah terbangun, ternyata digigit nyamuk terpaksa ayah meninabobokan kita, mengendong kita hingga benar-benar tertidur pulas.
Jam 2 malam kita menangis lagi, ternyata lapar....
Begitu terus dan itu bukan hanya berlangsung saat kita bayi-sedewasa inipun kita sering menyusahkan, minta dibelikan HP model terbaru, minta dibelikan laptop, minta motor, minta ini itu....
Dan saat kita sakit-rewel-berada didalam kamr tak mau keluar- bertapa orang tua sangat berperan dalam memberikan TKTP, tanpa kita kode/pinta.....
luuaar biasa... bayangkan betapa sabarnya ortu kita dalam menghadapi kita.....
Nah sekarang saya balik ya....
Kini roda kehidupan telah berputar, ortu kita tidak sekuat dulu, sakit, lemah, dan membutuhkan perawatan.... siapa yang mau merawatnya? pembantu kita-perawat yang dibayar dengan gaji tinggi-atau parahnya lagi dirawat oleh pegawai Panti Tuna Wreda.... semoga kita tidak sampai setega itu (aamiin)
Coba saya balik tanya... saat kita bayi, siapa yang menganti popok? siapa yang menyusui? siapa yang meninabobokan saat kita rewel tiada henti? siapa yang menyuapi kita? siapa yang membantu kita berjalan? siapa yang membelikan sepeda roda tiga? siapa yang mengajari mengayuh sepeda?
Saya yakin hati kecil kalian akan berkata ayah bunda - papa mama - romo biyung - umi abi.....
Apakah kita masih mau berkata capek mengurus mereka sedangkan belasan tahun-puluhan tahun kita diurus mereka, dan mereka tak pernah protes, bahkan tidak meminta imbal balik, adakah orang tua yang meminta gaji pertama anaknya? saya rasa tidak ada, justru kita sendiri dengan penuh cinta bakti memberikan kepada mereka...
Maka datangilah mereka, uruslah semampumu,,, mereka butuh Tinggi Kasih sayang Tinggi Perhatian darimu-anaknya kandung-yang didik-disekolahkan-didoakan-dirawat....
Lihat mereka penuh kasih, sabarlah mengurus, karena _Murka Allah adalah murka mereka, Ridho Allah adalah Ridho mereka_
so TKTP lah pada ayah ibumu....
Birul walidain^^
Rabu, 13 Maret 2013
BaPia (Balon imPian)
Pernahkah
teman-teman mendengar tentang balon impian? Dulu pas tahun baru disebuah stasiun
swasta menanyangkan mengenai berita luar negeri, nah di negeri X (afwan lupa
nama negerinya) mengadakan suatu kegiatan yang meliputi semua warga negaranya,
baik muda maupun tua untuk menuliskan impian atau cita-cita mereka ditahun 2013
pada sebuah lampion putih (ups bukan balon ya hehehe yang penting bentuknya
bulat kayak balon). Nantinya pada saat pergantian tahun lampion itu dilepas
serentak dilautan dan disaksikan bersama-sama seluruh warga...
Wah...wah...wah
menurut saya inspiratif juga, dengan menuliskan impian kita bersama-sama,
otomatis kobaran semangat tiap individu akan mengalir deras membanjiri perasaan
dan kekuatan tulisan impiannya. Sehingga hati, pikiran, jiwa pun serasa punya
suplemen ajaib peningkat semangat mencapai impian. ^_^
Ya
kisah tentang balon impian (kali ini beneran balon loh ^^v) itupun ada pada
kelas inspirasi milik teman-teman Indonesia Mengajar. Dimana tiap muridnya
disuruh untuk menulis impian atau cita-cita pada sebuah balon.
Bahkan
dulu saat PPS alias program pengenalan study, kampus saya pun mengawalinya
dengan menerbangkan balon impian. Jadi beberapa balon diikat dan ada tulisan
tentang impian kampus saya.
Tahukah
teman? Ini hanya sebuah kegiatan simpel, murah, mudah... namun rasa yang
tertoreh di hati hemmmm, jangan ditanyakan lllluuuuaaarrrr bbbiiiiaasaa. Kenapa?
Why?
1. Ya karena ketika kita menulis,
mengeluarkan luapan perasaan lewat tulisan maka diotak/pikiran akan terasa
lega, ringan, hal ini kiranya mirip dengan saat kita curhat dengan teman kita (terasa lega bukan saat berbagi rasa hati).
2. Bukankah sesuatu yang dilakukan secara
berjamaah lebih menyenangkan dan lebih bersemangat serta lebih terasa
manfaatnya daripada sendirian. Contoh konkretnya solat, ketika kita solat berjamaah
dimasjid terasa semangatnya, banyak bertemu teman, nambah kenalan, merasakan
nikmatnya khusyuk bersama, insyaAllah dapat pahala 27 derajat pula.
Maka
dari itu balon impian adalah salah satu alternatif penyaluran perasaan kita
akan keinginan/impian/cita-cita kita kedepannya.. Yuk bikin balon impian dan
jangan takut kalau 1 impianmu belum tercapai bukan berarti balon impianmu
melutus,, tenang masih ada impian-impianmu yang lain yang terbang bersama balon
impianmu. Yuk gapai, jangan cuman dilihatin saja balonnya... tapi digapai, pegang
erat, terbanglah bersamanya, dan gapailah impianmu hingga puncak tertinggi.....
Ya!
Aku, Kau, Kita bisa!!! Semangat ^^ Keep hamasah ^^V
Sabtu, 23 Februari 2013
Ijinkan Saya yang Meminta
Jelas sekali
wajahnya muncul dalam mimpi saya. Dan ini untuk yang ke tiga kalinya. Yang
membuat saya selalu terbangun tepat jam 03.00 WIB. Bersyukur karena mimpi itu
justru membangunkan saya untuk sholat qiyamullail. Kalau mau meruntut mimpi
itu pertama kali muncul usai saya dan beberapa teman BEM FMIPA menjenguknya
karena sakit Hirschsprung (megacolon), penyakit yang sebenarnya
lebih sering ditemui pada bayi. Sejenis penyakit karena kelainan kongenital pada
kolon yang ditandai dengan tiadanya sel ganglion parasimpatis pada pleksus
submukosus Meissneri dan pleksus mienterikus Auerbachi (afwan intinya
jadi tidak bisa BAB, ribet njelasinnya kalau masih penasaran cari di internet
saja), hingga membuatnya hampir 2 bulan tidak masuk kuliah. Padahal
teman-temannya termasuk saya, di bulan-bulan itu sudah mulai sibuk setor muka
dan setor proposal skripsi dihadapan dosen.
Kami sesama
anggota BEM FMIPA, jadi resah akan nasib teman kami yang tidak kunjung
kelihatan dan tidak kunjung ada kabar, terlebih lagi posisinya sebagai mantan
ketua BEM FMIPA sedang sangat diperlukan untuk serah terima jabatan (sertijab)
ke ketua BEM FMIPA yang baru. Akhirnya kami mulai curiga karena sms-sms yang
tidak pernah dibalas bahkan telpon pun tidak pernah diangkat. Muncullah niatan
untuk silaturahmi ke rumahnya, yang jujur cukup jauh dari kampus kami. Tadinya
yang mau berangkat adalah 20 orang, tapi karena takut dikira mau demo jadi
disusut menjadi 7 orang ikhwan. Kenapa 7? karena kata mereka biar kayak laskar
pelangi. Hehehe ya sebenernya kami itu memang kadang geje orang-orangnya. Sip,
7 ikhwan tangguh itu pun melesat kerumahnya di daerah Sragen. Afwan sampai lupa
memperkenalkan namanya, namanya Fikri Al-Farisi. Cukup akrab dengan dipanggil
Faris, ibunya sangat mengidolakan sahabat nabi yang bernama Salman Al-Farisi
dan dengan mengilhami itu maka terrcetuslah nama anaknya Fikri Al-Farisi yang
berarti pemikiran Al-Farisi/Salman Al-Farisi. Begitulah kalimat mukaddimahnya
saat mengawali rapat perdana BEM FMIPA dengan Faris sebagai ketuanya.
Singkat cerita
sepulang mereka dari Sragen membawa kabar sedih bahwa Faris kena megakolon dan
sekarang sedang di opname di RSI Yarsis Surakarta. Yap penyakit itu
membuat tubuhnya menjadi kurus karena mau makan pun menjadi tidak nyaman, tapi
Alhamdulillah pada saat kami menjenguk sudah dilakukan operasi dan masih perlu
bedrest.
Ohya kembali lagi tentang
kelanjutan mimpi saya. Jujur tidak pernah terbesit dalam hati ini memikirkan
dia terlalu dalam, bahkan jatuh hati pun tidak. Saya tidak mengerti apakah ini
karena rasa iba ataukah sesuatu yang lain. Selepas menjenguknya dari Rumah
Sakit, saya memang merasa miris dan iba melihat orang yang terkenal konyol,
cuek, PeDe namun sebenarnya memang punya karisma kepemimpinan itu kini
terbaring lemah dengan tubuh yang semakin kurus, jujur kalau boleh berpendapat
layak seperti marasmus, mungkin lemak, karbohidrat bahkan protein dalam
tubuhnya hampir habis memenuhi energi untuk kebutuhan tubuhnya. Ya, selepas itu
entah dari mana asalnya saya bermimpi menikah dengannya dan merawatnya. Oke saya sadar mungkin saat itu adalah rasa
keibaan saya yang berperan hingga membawanya kealam bawah sadar saya dan
terwujudlah mimpi semacam itu.
Semula mimpi
perdana itu saya hapus dari memori. Karena jujur saja cukup berpengaruh pada
kehidupan nyata saya, jadi aneh dan terasa bagaimana gitu kalau mendengar
namanya disebut teman saya. Namun perlahan memori mimpi itupun hilang meski
masih terasa bekasnya karena begitu nampak nyata. Kesibukan akan penyusunan
skripsi membuat saya tidak begitu mengambil hati tentang apa yang telah terjadi
dalam bunga tidur saya. Tapi itu ternyata tidak bertahan lama.
“Fi”
panggil Jelita. Ya nama saya Lutfi, Annisa Lutfiya Izzah. “Tadi aku lihat Faris
di perpustakaan?” lanjutnya.
“Oh
ya?” sahut saya singkat dan terkesan cuek.
“Kok
cuma oh ya sich.” protes Jelita. Saya kurang tahu sich perasaan Jelita ke
Faris. Tapi kalau saya lihat Jelita itu cukup perhatian dengan kondisi Faris,
sampai-sampai tahu cita-citanya begitu juga Faris yang nampak cukup memahami
sifat Jelita yang terkesan melankolis. Mungkin mereka cocok. Tapi ya maklum
dink, Faris kan ketua si Jelita Sekertaris jadi ya intensitas komunikasi
tergolong sering. “Tapi aku suka semangatnya biar bisa cepet sidang skripsi.
Dengan tubuhnya yang masih kayak orang maris, mari apa sich namanya roti mari?”
tanyanya sembari melirik saya.
“Marasmus
neng Jelita cantik” jawab saya gombal.
Iya
jujur percakapan itulah yang mulai mengusik pikiran saya kembali tentang mimpi
aneh 1 bulan yang lalu. Dan yang membuat saya tambah kikuk ketika koreksi
beruntun dari dosen yang mengharuskan saya untuk berkunjung ke perpus. Padahal
jelas 2 jam yang lalu Jelita cerita kalau Faris ada diperpus. Belum siap saya
bertemu dengannya. Tapi mungkin juga tidak bertemu kan sudah 2 jam yang lalu.
Perpus
FMIPA tergolong cukup besar dan luas, bukunya juga seabrek, suasananya hening,
namun kalau lagi bulan-bulan seperti ini jadi rame, ya 90% isinya mahasiswa
tingkat akhir. Oke mantap dan bikin tambah pusing. Tapi memacu semangat juga
sich karena lirik kanan kiri kebanyakan sudah sampai BAB 4 jadi semangat buat
segera memperbaiki pembahasan.
5
buah buku sudah saya letakkan di ruang baca yang rata-rata dihuni anak-anak
muka kusut, saking serius dan pusingnya. Mending saya yang cuma ambil 5 buku
ada tuh yang ambil 12 buku, entah mau disortir atau dibaca semua atau dijiplak
semua biar jadi skripsi tertebal sekampus.
Saat
sedang asyik menyusun kalimat-kalimat pembuktian, ces laptop mati. Ya Rabb
sampai lupa kalau baterai tinggal 15 persen, pakai acara tidak muncul
pemberitahuan dulu sebelum mati, atau karena saking khusyuknya sampai tidak
sadar ada pemberitaan dilayar laptop. Entahlah yang jelas sekarang harus pindah
tempat sebelum kalimat-kalimat yang sudah tersusun diotak ini hilang.
“Misi
ya?” ucapku yang langsung menancapkan carger laptop di terminal listrik
sebelah, hah sebelah siapa? Ya Rabb saking pusingnya sampai tidak sadar kalau
didepan saya.....
“Silahkan”
sahut Faris yang tampak masih khusyuk dengan bacaannya.
‘Ya
Rabb kenapa dia masih disini dan justru palah bertemu.’ gerutu saya dalam hati.
Sungguh posisi yang tidak nyaman saat itu. Dan entah apa yang mengusiknya
tiba-tiba konsentrasinya beralih ke arah saya.
“Oh,
Lutfi.” ucapannya itu membuat saya harus memasang senyum. “Sudah sampai bab
berapa?” tanyanya lagi.
“
Bab 4” sahutku. “ Antum sudah penelitiankan?” tanyaku lagi, jujur tak mengerti
kenapa lisan ini bertanya semacam itu.
“Alhamdulillah
sedang merancang mohon doanya saja” sahutnya pelan. Masih nampak guratan sakit
di wajahnya. Pucat dan lemah, dan sekarang harus berperang dalam laga skripsi
ini.
“Aamiin,
Insya Allah.” jawabku singkat. Dan setelah itu dia pun pamit pulang dulu,
memang sudah selayaknya dia istirahat dirumah pikirku.
♥♥♥
Dua bulan setelah pertemuan singkat
itu memang kami tidak pernah bertemu lagi, hanya sering kulihat dia keluar
masuk ruang pak Farhan, dosen pembimbingnya. Alhamdulillah mimpi itu juga tidak
kembali mengusik saya. Memang benar skripsi telah menyita pikiran yang menurut
saya susah disandingkan dengan memikirkan dilema hati. Dan Alhamdulillah saya
sudah selesai sidang. Lega....
Sembari mengisi waktu menunggu
wisuda saya memang dapat tawaran untuk menjadi guru privat anak SD kelas 4.
Jelas tawaran itu langsung saya terima. Tawaran yang mungkin tak datang 2 kali.
Waktu ini yang saya fokuskan bagaimana agar tidak terkesan menganggur. Jadilah
alih profesi sementara menjadi guru les privat anak SD.
Intensitas
kehadiran saya dikampus memang sudah mulai berkurang. Namun entah kenapa mimpi
ini kembali hadir. Ya lagi-lagi saya melihat dia dalam mimpi saya. Bukan hanya
1 kali tapi ini terulang menjadi 3 kali.
“Saya heran
mbak kenapa ya ikhwan itu kembali hadir dalam mimpi saya?” curhat saya kepada
murrabi saya, mbak Aisyah.
Beliau
hanya tersenyum dan menjawab singkat “Kalau memang menganggu istikhorohkan
saja.”
Sebenarnya
saya masih ingin bertanya panjang lebar, tapi teman-teman liqo’ mulai
berdatangan. Malu juga kalau mereka mendengar curhatan saya. Tapi mungkin
memang benar baiknya diistikhorohkan saja.
♥♥♥
Istikhoroh
itu membawa satu jawaban, yang membuat saya masih tak percaya karena jawabannya
adalah sekelebat wajahnya mengusik pikiran saya. Saya jadi teringat cara-cara
untuk mendapatkan calon suami, salah satunya diperbolehkan melamar langsung.
Izinkan
saya mengutip kalimat yang terdapat dalam buku karangan Cahyadi Takariawan
berjudul “Di Jalan Dakwah Aku Menikah”. Di zaman Nabi SAW seorang perempuan
muslimah menawarkan dirinya kepada beliau, Tsabit Al-Bunani bercerita bahwa dia
berada di dekat Anas r.a. dan disebelahnya ada anak perempuan Anas. Kemudian
Anas berkata, “Seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW menawarkan dirinya
seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau berhasrat kepadaku?” Maka
puteri Anas berkomentar, “Betapa sedikit perasaan malunya.” Anas menjawab, “Dia
lebih baik daripadamu, dia menginginkan Nabi lalu menawarkan diri kepada
beliau.” (Bukhari).
Makna
dari hadist tadi adalah kebolehan seorang wanita untuk menawarkan diri kepada
laki-laki saleh karena menyukai kesalehannya. Namun memang ini kurang lazim
dilakukan oleh seorang wanita. Hem.... entah apa yang kini merasuki benakku.
Dengan sengaja tertulislah kalimat ini dilayar HP.
Bismillahirrahmanirrahim...
Akhi bisakah kau menjadi
imamku? Saya serius mengatakan ini. Ini bukan humor dan saya sadar
mengatakannya. Saya memang tidak memikirkan antum terlalu dalam bahkan saya
tidak mengerti mengapa antum hadir terus dalam mimpi saya. Saya sudah
mengistikhorohkan semua ini. Antum tidak harus menjawabnya sekarang. Afwan.
Entah apa yang merasuki jiwa dan
alam bawah sadar saya. SMS itu benar-benar terkirim ke no HP Faris. Ya Rabb.
Saya tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Yang jelas saat itu justru yang
hadir perasaan lega bukan penyesalan.
Saya
berharap Faris menganggapnya hanyalah sebuah pernyataan biasa yang tidak perlu
difikirkan ataupun dibalas. Saya berharap Faris tidak menanggapinya. Atau
entahlah apa yang akan terjadi. Yang jelas ini seperti sebuah keteledoran saya.
Benarlah
1 hari kemudian HP saya bergetar, ada SMS rupanya. Dan Faris
Bismillahirrahmanirrahim.....
Saya hanya
manusia biasa yang tidak berhak memutuskan sesuatu tanpa seizinnya. Jodoh,
rezeki, hidup mati sudah tertulis dalam Lauful Mahfuz. Ya Allah, engkaulah yang
Maha Penguasa dan Maha Mengetahui sesuatu yang masih tersembunyi. Ya Allah
pilihkanlah yang terbaik untuknya, pilihkanlah pendamping hidup yang baik
untuknya. Aamiin. Afwan mungkin untuk saat ini bukan saya.
Sungguh
bergetar hati saya membaca SMS Faris. Ya Rabb, ampuni hamba. Saya merasa bersalah akan
ketidaksabaran dan ketergesa-gesaan sikap saya. Seharusnya saya bisa lebih
bersabar. Sekarang dengan raut muka seperti apa yang akan saya tunjukkan ketika
saya bertemu dengannya suatu saat nanti. Saya harusnya sadar semua ini tidak
seharusnya dilakukan oleh akhwat seperti saya. Ya Rabb, malunya.....
♥♥♥
Jujur sampai
saat ini, saya masih tidak percaya akan jawaban penolakannya secara halus. Namun
saya sadar mungkin memang benar yang kemarin itu hanya bunga tidur, seharusnya
tidak saya ambil sampai kehati. Ataukah mungkin yang kemarin itu adalah
penjelmaan rasa saya, mungkinkah sebenarnya saya jatuh hati padanya sehingga
muncul mimpi-mimpi semacam itu. Mungkinkah saat istikhoroh hati saya belum
khusyuk dan masih didominasi olehnya sehingga yang muncul adalah dirinya.
Astagfirullahaladzim.
♥♥♥
Langit hari
sabtu ini begitu cerah, angin berhembus menyejukkan perasaan. Kicauan burung
bersenandung merdu memeriahkan hari ini. Ini hari yang paling kami tunggu,
wisuda. Auditorium kampus nampak ramai, ayah ibu kakak adik semua berkumpul
menemai calon wisudawan/wati. Meriah sekali....
Wisuda adalah
moment yang penting bagi kami, tapi untuk saat ini jujur saya cemas. Cemas
karena sesuatu hal yang harusnya tidak perlu saya fikirkan.
Prosesi wisuda
berjalan lancar dan menyenangkan. Tapi ini saya rasa sementara, karena setelah
ini ada tantangan besar yang akan menunggu kita, ya berlomba-lomba mendapatkan
pekerjaan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana wajah saya ketika menganggur
dirumah. Semoga hanya sebentar masa menunggunya. Aamiin.
♥♥♥
5 bulan
berpisah dari kampus. Memang benar saya sudah mendapat pekerjaan dan sempat
menganggur selama 3 bulan, sungguh 3 bulan itu sudah serasa 1 tahun saja. Sikap
ambisius saya inilah yang membuat saya tidak sabar terlalu lama dirumah. Namun,
alhamdulillah kini saya berusaha untuk menjatuhkan cinta pada pekerjaan ini.
dddddrrrrrrtttttt....
HP saya bergetar, SMS dari Jelita.
Assalamu’alaikum.... ukhtyku cantik...
Eh kemana aja nich? sudah lama tidak mendengar kabarmu,, BTW udah ada
yang melamar belum? kalau mau nikah kabar-kabar ya? ^^
Membacanya
membuat saya senyum-senyum tidak jelas. Nich anak, udah lama tidak SMS,
tiba-tiba SMS begituan. Bikin galau saja...
Saya fikir itu
hanyalah SMS biasa dari seorang sahabat yang sudah lama tidak bersua dan
ternyata 5 hari kemudian Jelita SMS lagi.
Assalamu’alaikum
cantik.....
Hari ini
ada dirumahkan?
Langsung saya
balas
Wa’alaikumsalam,
ada sayangku,, mau main po?
Dan langsung
dia balas
Mungkin
yang lain yang mau mampir.
Hah, aneh apa
sich maksudnya. Tapi tidak terlalu saya gubris karena kebetulan pulsa saya
tinggal 200 perak. Tapi kalau dipikir-pikir aneh juga ya. Ganjil.
13.00 WIB.
Minggu siang ini, saya memang tidak ada agenda penting, akhirnya menghabiskan
waktu membaca buku di depan ruang tamu. Dalam kekhusyukan dan ke asyikan
tentang apa yang sedang saya baca, terdengar suara motor. Tepat berhenti di
depan rumah. Hmm, siapa ya?
“Assalamu’alaikum...”
ucap tamu itu.
Tanpa berfikir
panjang setelah memakai kaus kaki, saya buka pintu rumah. Rasanya seperti
mendengar balon meletus saat melamu. Kaget, ya kaget. Ini siapa? Apa mata saya
tidak salah melihat? Ataukah saya cuma berhalusinasi?
“Menjawab salam
wajib kan ukht?” tanyanya lagi.
“Hah” sahut
saya kikuk. “Wa’alaikumussalam” lanjut saya yang masih tidak percaya kalau yang
berdiri dihadapan saya ini Faris. Fikri Al-Farisi. Orang yang dulu pernah saya
minta menjadi imam. “Oh ya silahkan masuk dan duduk”
Dengan jiwa
yang masih setengah bingung saya langsung meluncur ke dapur, membuatkannya
minum dan mengajak keponakan saya yang masih berumur 3 tahun untuk ikut keluar.
Biar ada muhrimnya gitu.
“Silahkan
diminum.” ucap saya sembari tersenyum. “ Kok antum tahu rumah saya?” selidikku.
“Jelita yang
ngasih tahu.” jawabnya santai sembari mengambil gelas.
Jujur saya
bingung dan kikuk apa tujuan dia kesini dan apa yang harus saya katakan
padanya. Rasanya seperti mimpi saja. Kalau boleh lari. Saya pasti sudah lari
sekencang-kencangnya, biarlah dia disini sendiri. Tapi ini sungguh nyata. Saya
harus menghadapinya. Ya Allah jujur saya masih malu dengan apa yang pernah
terjadi diantara kami.
Hening, ya
suasana berubah menjadi hening, cukup lama 10 menit. Akhirnya saya beranikan
diri untuk bertanya.” Jadi antum kesini...”
“Iya afwan
saya jadi bingung sendiri” serobotnya. “Bismillahirahmanirrahim” ucapnya
sembari menghela nafas. “Afwan ukht, mungkin saya lancang kesini tanpa memberi
kabar terlebih dahulu, saya cuma ingin membalas anti.”
Mendengarnya
mukaku langsung berkerut. Apa? Membalas?
“Afwan, maksud
saya membalas kenekatan anti yang telah membuat saya kaget.” lanjutnya.
“Soal itu,
afwan, afwan jiddan.” ucap saya penuh penyesalan. “Mungkin saya terlalu lancang
dan terlalu berani, atau saya yang tidak tahu malu” tambah saya penuh
penyesalan.
“Justru saya
berterimakasih pada anti, kalau anti tidak mengingatkan mungkin saya tidak terlalu
menyadari semua ini” ucapnya. “Setelah anti mengatakan itu jujur saya tidak
melakukan istikhoroh saat menjawabnya, yang terpikir dalam benak saya ini
bukanlah pilihan tapi pertanyaan tantang dan keharusan. Tapi saya menyadari
kelemahan diri saya ketidakmampuan saya waktu itu. Akhirnya sampai saya menemukan
buku dan membacanya.” ucapnya sembari menghela nafas. “Yang intinya percakapan
Rasulullah SAW dengan ‘Ukaf bin Wada’ah Al Hilali, tentang mengapa ‘Ukaf belum
beristri padahal dia sehat lagi berkemampuan. “ urainya. “Lalu beliau bersabda
bahwa golongan umat beliau adalah yang mematuhi perintahnya yaitu menikah bagi
siapa yang telah mempunyai kemampuan untuk menikah. Orang yang paling durhaka
diantara kalian adalah yang membujang, dan orang yang mati paling hina diantara
kamu ialah kematian bujangan, maka menikahlah!” urainya panjang lebar. Ya
nampaknya Faris telah menghafalkan dialek ini semalaman. Meskipun demikian saya
hanya bisa menunduk mendengar penuturannya. “Oleh karena itu ukht, ijinkalah
saya yang meminta!” tandasnya.
Sontak jantung
saya berdetak tak karuan, saya pegang erat adik ponakan dalam pangkuan
saya.
“Saya bukannya
menolak anti, tapi saya merasa kurang lazim kalau anti yang mengatakannya, maka
ijinkan saya yang meminta!” ucapnya lagi kali ini sangat menohok hati. “Anti
belum dikhitbah kan?” tanyanya.
“Belum” jawab
saya dengan nada agak serak. Jujur tangis saya ingin pecah saat itu.
“Kalau begitu,
bismillahirahmanirrahim, saya datang kerumah anti untuk mengkhitbah anti.”
tegasnya. “Selayaknya dulu anti memberi waktu, maka saya pun juga akan memberikan
waktu pada anti untuk mengistikhorohkannya.”
Ya Allah, saya
tidak pernah menyangka semua ini kembali lagi pada saya. Sekarang dia yang
memintanya. Dia sungguh-sungguh memintanya, betapa salahnya saya atas
ketidaksabaran saya waktu dulu. Ampuni saya Ya Allah.
♥♥♥
Saya sudah
menjawab permintaanya lewat SMS, bahwa saya bersedia dan keluarga saya pun sudah saya
beritahu dan mereka setuju. Dua minggu setelah itu dia kembali datang dengan
membawa keluarga besarnya. Kami pun mulai membicarakan keseriusan niat dan
jadilah satu bulan kedepan kami menikah.
♥♥♥
Subhanallah,
indah memang dan selayaknya kita sebagai akhwat bersabar dalam penantian ini
kalaupun tak kuasa bolehlah memintakan kepada wali kita untuk melamarkan
seseorang untuk kita. Kisah Anisa Lutfiya Izzah bisa saja terjadi dikehidupan nyata, namun
bisa saja hanya menjadi sebuah fiktif semata. Semoga Allah selalu memberikan
kita terutama akhwat kesabaran dalam penantian ini. Aamiin. Isilah masa penantian
ini dengan memperdalam ilmu agama, memperbanyak membaca, istikhomah tilawah
Al-Qur’an, dan menambah hafalan. Wallahu’alam.
Hari triardiyanti♥♥♥
Jumat, 22 Februari 2013
Cermin dan Genangan air
Gumpalan awan hitam mulai mendominasi langit. Lama-kelamaan gumpalan awan itu menguap dan menjadi titik-titik air yang basahi
bumi. Gemercik air hujan memacu sebagian orang untuk mempercepat laju
kendaraannya. Begitu pula dengan diriku, aku mulai mempercepat langkah kakiku
menuju halte bis. Ehm, halte ini tampak telah berumur. Besinya telah berkarat
dan nampak kurang terurus. Namun, tak apalah setidaknya bisa digunakan untuk
berteduh sementara.
Ku kira, aku akan menjadi penghuni tunggal halte ini,
namun ternyata datang seorang laki-laki yang berumur sekitar 35 tahun yang
diekor oleh anaknya yang berumur sekitar 10 tahun. Laki-laki dengan baju batik
berwarna biru itu nampak sibuk membersihkan rambut anaknya yang terguyur hujan.
Pemandangan yang nyaris membuatku miris. Sebenarnya aku sangat rindu kasih
sayang ayah, tapi ya sudahlah tak perlu ku buka lagi lembar lama.
“Bagaimana perjalanan kita hari ini?” tanya laki-laki
itu sembari menatap sayang anaknya. “Kau senang kan, nak?”
“Iya, Yah, aku senang sekali!” ucap anak itu sembari
tersenyum bahagia. “Tapi, kenapa kita harus mengunjungi rumah sakit jiwa?”
tanya anak itu polos.
Aku langsung tersentak mendengar kalimat terakhir anak
itu. Sesuatu yang aneh. Tapi, aku jadi penasaran apa yang selanjutnya akan
mereka perbincangkan. Spontan langsung ku pertajam pendengaranku.
“Kau tahu nak, bagaimana keadaan orang- orang disana?”
tanya laki- laki itu.
“Mereka
terlihat bahagia, namun ada juga yang terlihat sedih, dan ada juga yang tiba-tiba mengamuk.” Jawab anak itu.
“Kau tahu, kenapa seperti itu?”
“Kata dokter, beban mental, tapi aku masih tidak
mengerti maksud dokter?”
“Dengarkan ayah baik-baik ya, nak!” ucap laki- laki
itu sembari merangkul anaknya. “Nak, dibalik hitam selalu ada putih dan dibalik
putih tidak mungkin ada hitam, jika pun ada pasti akan membuat warna putih
menjadi terlihat hitam, meski warna hitam itu hanya setitik!” jelasnya.
“Aku tak mengerti, Yah?” ucap anak itu polos.
“Ini, ayah punya kertas putih, coba saja kau coret, kau
gambar sesukamu!” perintah laki- laki itu sembari memberikan selembar kertas
HVS kepada anaknya. Anak dengan baju bergambar mobil itu, nampak masih bingung
dengan apa yang dikatakan ayahnya. “Ayo, bukankah kau suka menggambar, nak?
Tunjukkan pada ayah bakatmu itu!” dukungnya. Meskipun telah diberi dukungan,
anak itu nampak masih bimbang untuk menggambar.
“Benar nich Yah, aku boleh menggambar?” tanya anak
itu polos.
“Ya bolehlah!” jawab laki-laki itu, semangat. “Kalau
Hamif punya bakat salurin aja, jangan dipendam, nanti kalau dipendam bisa-bisa
bakatnya hilang loh!”
“Memang bisa Yah?”
“Ya, bisalah nak!” ucap laki-laki itu meyakinkan.
“Bakat itu memang sesuatu yang terpendam dalam diri, tapi jika dipendam terus
tidak akan bisa berkembang. Contoh nyatanya, Hamif. Hamif kan bisa
menggambar, tapi kalau Hamif gak pernah mau latihan menggambar, ya Hamif tetap
bisa menggambar, tapi gambarnya biasa saja. Jadi ya karya Hamif tetap berkategori
sedang, tapi kalau Hamif mau latihan terus, nanti Hamif bisa ngrasain gimana
bikin gambar yang bagus. Istilahnya, Hamif bisa mengukur takaran yang harus
dipakai karena Hamif udah belajar dari kesalahan-kesalahan yang Hamif lakukan
pada waktu yang lalu.” Jelasnya panjang lebar. “Ya udah, sekarang Hamif gambar
aja!” suruhnya.
Anak bernama Hamif itu mulai membuat gambar, coretan-coretan halus yang merupakan sketsa gambar cangkir. Beberapa detik kemudian,
sketsa itu menjadi sebuah coretan tegas menyerupai gambar cangkir yang
disekelilingnya terdapat tumpahan air. Gambar itupun diasir dengan pensil. Dan
kini terciptalah karya beraliran naturalisme. Menurutku, sebuah gambar yang
bagus, untuk anak seumurannya.
Hamif langsung memperlihatkan buah karyanya pada
ayahnya.
“Bagus,” puji laki-laki itu. “Tahu tidak nak, sebelum
kamu gambar, kertas ini berwarna putih, tanpa noda hitam. Nah, setelah kau
gambar kertas ini menjadi coretan-coretan noda hitam, tapi ada dua noda hitam,
yang pertama noda hitam dengan hasil karya yang indah dan yang kedua noda hitam
dengan hasil karya yang jelek.” Jelasnya. “Noda hitam dengan hasil yang indah
ataupun jelek itu adalah pencerminan diri kita yang mampu dirasakan atau
dilihat orang lain. Jika kita mencoret menjadi noda hitam dengan hasil yang
indah, nah itu sifat baik yang kita pancarkan keluar. Tapi jika kita mencoret
menjadi noda hitam dengan hasil yang jelek berarti sifat yang terpancar adalah
sifat buruk kita. Dan baik buruknya seseorang itu tergantung pada empunya. Jika
dia ingin baik, buatlah karya yang mempesona, tapi jika ingin jelek, ya buatlah
menjadi jelek. Sedangkan putih itu adalah sifat kita sesungguhnya.” Tambahnya
panjang lebar. “Maka dari itu nak, janganlah lihat seseorang dari sudut
depannya saja, tapi dari sudut dalamnya juga. Dan kamu juga jangan menilai
seseorang dari sisi subjektifmu saja, tapi juga dari penilaian mereka terhadap
diri mereka sendiri!” nasehatnya.
“Terus apa hubungannya dengan orang gila tadi, Yah?”
tanya Hamif.
“Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan orang gila
tadi, tapi ada hubungannya dengan penilaianmu terhadap orang gila tadi!” jawab
laki- laki itu sembari menyentuh hidung Hamif dengan jari telunjuknya.
“Berarti, maksud ayah, aku hanya melihat mereka dari
sisi depan saja, belum ke sisi dalam?” tanyanya lagi.
“Iya, mungkin
memang benar mereka terlihat bahagia dan kadang sedih bahkan mengamuk, dan
memang benar pula kata dokter kalau mereka punya beban mental yang terlalu
berat, tapi pernahkah kita berfikir untuk tahu apa masalah yang menjerat
perasaan mereka?” Dan setelah mendengar pertanyaan ayahnya, Hamif langsung
menggelengkan kepala. “Nah, itulah fungsi kita melihat seseorang bukan hanya
dari sisi kita, tetapi juga dari sisi diri mereka sendiri. Kita sebenarnya
terlalu egois, memikirkan segala sesuatu itu dari apa yang kita lihat dan apa
yang kita rasa, tapi jarang sekali kita ingin tahu apa yang sesungguhnya
terjadi!” jelasnya.
‘Terus apakah kita harus selalu ingin tahu masalah
orang?” tanya Hamif lagi.
“Ya, bukan seperti itu maksud ayah!” jawabnya sembari
menghembuskan nafas. “Ayah menasehatimu seperti ini agar kamu tidak selalu menjudgement atau memberikan penimbangan
atau pendapat selalu dari sisi kamu, tapi juga dari sisi orang itu sendiri. Dan
itu banyak caranya, seperti, kamu membayangkan berada diposisi dirinya.
Contohnya, guru Hamif memberikan PR, tapi kebetulan baru sekali itu saja PR
tidak dicocokan, padahal Hamif sudah berusaha dengan semangat 45 untuk
mengerjakan PR. Pastinya Hamif sebelkan dan akhirnya Hamif tidak suka ma
beliau.” ucapnya sembari mengelus pundak Hamif. “Itu namanya penilaian dari sisi
Hamif, padahal asal Hamif tahu, tugas guru itu banyak, bukan hanya sebatas
mengajar dan meneliti Ulangan dan PR, tapi juga merekap nilai, membuat laporan
kegiatan belajar mengajar, ya kalau Hamif tahu kerjaan guru tuh numpuk, kan
Hamif jadi paham dan tidak sebel lagi ma tu guru.”
“Iya, Yah, Hamif ngerti!”
“Tapi sebenarnya, ayah ingin kamu tidak hanya bisa
memahami orang, tapi juga memahami dirimu sendiri!” nasehatnya. “Dan cara untuk
memahami dirimu sendiri salah satunya, kamu jangan hanya sedia cermin, tapi juga
sedia genangan air!” tambahnya.
Aku terhenyak mendengar kalimat terakhir laki- laki
itu, sebenarnya aku masih binggung apa yang dia maksud dengan tidak hanya sedia
cermin, tapi juga sedia genangan air. Kini aku terhanyut dengan pemikiranku
sendiri. Dan tanpa sadar laki- laki itu dan anaknya telah pergi meninggalkanku.
Ternyata hujan telah reda.
Aku berlenggang dari halte dan melangkah menulusuri
jalan setapak. Dan diriku masih dikuasi oleh pemikiranku, yang entah akan
berlabuh kapan dan dimana. Semilir angin dingin menusuk pori-pori kulitku,
menengakkan bulu kudukku. Hem, kalau sudah seperti ini, rasanya ingin cepat
sampai rumah. Namun sepertinya aku harus menepis semua pemikiran tentang rumah,
aku masih ada tanggungan untuk melihat nilai hasil semesteranku. Kalau ingat
hal ini, jantungku jadi berdetak dengan kencangnya. Rasa takut, cemas, penuh
harapan, berkecambuk dalam lubuk hatiku. Ku rasa usahaku lebih maksimal dari
tahun lalu, dan aku yakin hasilnya pun lebih baik, meski aku tahu, soal- soal
kelas 12 jelas lebih tinggi tingkat kesulitannya dibanding kelas 11 dan kelas
10. Tapi aku tetap harus optimis, ini semester terakhirku di SMA.
Tak sampai se per 4 jam, aku sudah sampai depan
gerbang sekolah. Dan kini jantungku berdetak lebih kencang, 5 kali lipat dari
yang tadi. Entahlah apa yang akan terjadi nanti, yang jelas kini aku pasrah,
tapi hatiku masih rajin berdoa untuk keberhasilanku. Langkahku kini justru
semakin lambat, rasanya tubuhku menjadi lemah, tak berdaya. Tapi aku tidak
boleh seperti ini, aku harus maju dan berani hadapi kenyataan, sekalipun itu
pahit.
Sekolah sepi, hanya segelintir anak yang nampak masih
betah menghuni sekolah. Entahlah apa yang mereka kerjakan, yang jelas semua itu
tak penting bagiku, yang terpenting bagiku adalah bergegas menuju papan
pengumuman.
Daftar nilai belum lengkap, hanya ada Geografi,
Sejarah, dan PKn, PKn? Melihat tulisan itu, mataku langsung tertuju pada daftar
nilai anak kelas 12 IPA, Alhamdulillah, dapat nilai 85. Namun disebelah daftar
nilai PKn, ada daftar nilai Matematika. Melihat nilai Matematikaku, aku
langsung lemas, nilaiku 55. Padahal kemarin aku dah semangat belajar, dari
mengerjakan LKS, belajar catatan, sampai latihan soal semesteran, dan rasanya
kemarin aku bisa mengerjakan, bahkan aku sempat optimis nggak remidi. Tapi
angka kembar itu (55) rasanya telah memutuskan harapanku.
Perasaanku kini bercampur aduk, tak karuan, entahlah!
Aku kecewa, sedih. Dulu pas kelas 10 juga begini dan kelas 11 begini juga terus
sekarang kelas 12 kenapa remidi juga? Aku masih tak mengerti, ingin sekali aku
merobek kertas daftar nilai itu, jujur aku bukan hanya sedih, tapi juga malu,
namaku terpampang jelas di papan remidi Matematika. Tapi ya, sudahlah, semua
udah terjadi, kalaupun aku sobek hingga tu kertas tak berbentuk, tetap saja
nilaiku belum tuntas.
Kini aku mencoba untuk tetap kuat hadapi kenyataan.
Dan bergegas meninggalkan sekolah ini, mungkin suatu pilihan yang baik untukku.
Namun baru beberapa langkah, langkah kakiku terhenti, masih ada daftar nilai
lagi. Fisika, aku langsung mendekatinya, tapi dengan mata tertutup, aku mencoba
untuk menenangkan pikiranku. Tak sampai 10 detik, aku langsung membuka mataku,
aku masuk daftar remidi lagi, nilaiku 60. Aku nggak pernah nyangka, ini seperti
mimpi buruk! Sungguh aku ingin lekas bangun, tapi ini bukan mimpi, ini
kenyataan, yang mau tak mau harus aku hadapi.
Aku masih berada dalam alam sadarku, dan aku pun sadar
kalau aku ini seorang laki- laki. Dan laki- laki bukanlah tipe orang yang
cengeng, aku harus kuat. Tapi ini baru hari pertama, aku sudah panen 2 mapel
yang siap diremidi. Huff, bagaimana dengan yang lain? Cukup! Aku nggak tahan
lagi dengan semua pemikiran ini. 2 mapel itu adalah salah 2 mapel UNAS, ya
Rabb! Iya, aku tahu semua itu, tapi sudahlah, percuma saja menyesali sesuatu
yang tak bisa kembali.
Aku melangkah lemas keluar dari sekolah. Mimpi buruk
ini akan berakhir, pasti. Tapi aku benci dengan semua ini. Aku sangat malu
dengan teman-teman sekelasku, mereka sangat pandai akhir-akhir ini, dan aku,
rasanya masih sulit untuk mengimbangi mereka. Apa yang harus aku lakukan?
Apakah perjuanganku hanyalah sebuah kesia-siaan belaka? Aku tahu dengan pasti
nggak ada yang sia-sia, tapi ini benar-benar memojokkan dan menyakitkanku. Dan
aku tahu dengan pasti, ada 2 insan yang menumpukkan harapan padaku, ya ayah dan
ibuku. Pertanggungjawaban seperti apa yang harus aku suguhkan untuk mereka?
Aku tak ingin kecewakan mereka! Aku juga tak ingin sia-siakan setiap tetesan
keringat, kerja keras mereka untuk menyekolahkanku! Tapi, apa yang terjadi hari
ini serasa menyobek harapanku. Nggak! Aku nggak boleh putus asa, remidi
bukanlah akhir dari perjuanganku. Aku masih harus menempuh UAS, UNAS, UMPTN,
SMPTN, ya aku harus bangkit! Bagaimanapun caranya, aku harus bisa! Aku harus
semangat, aku pasti bisa!
Semilir angin menyapaku, membuatku teringat kata-kata
Dayat.
“Heran aku ma kamu, apa yang kurang dari kamu, udah
rajin puasa Senin-Kamis, rajin Dhuha, Sholat 5 waktu bahkan di tambah sholat
Rowatib, tapi kok untuk urusan nilai, kayaknya belum dikasih kemudahan! Padahal
kamu belajarnya rajin, tapi tenang Kri, semakin tinggi level keimanan dan
ketaqwaaan, semakin besar pula ujiannya!”
Entahlah, kata-kata dayat itu, memang tak tertata
dengan rapi, tapi aku mengerti apa maksudnya. Mengapa Dayat melihatku begitu
indah, dia sepertinya terpesona dengan pancaran keindahan yang tercoret pada
noda hitam di diriku, tapi dia belum melihat noda putih yang tersembunyi dalam.
Aku baru menyadari kalau laki-laki itu (yang ada di halte tadi) telah
mengajariku tentang arti putih, dulu kukira putih melambangkan kesucian,
pokoknya hal-hal dan sifat yang baik, tapi warna putih dalam kehidupan itu
beda, nggak seperti warna putih biasa, warna putih kehidupan memancarkan dua
warna, putih jernih yang melambangkan orang baik dan putih keruh yang
melambangkan orang yang punya sifat baik, tapi tertutupi oleh sifat buruknya.
Pyuk...., kakiku menginjak genangan air. Kulihat
bayanganku disana, tak nampak jelas, tapi ini bayanganku yang sesungguhnya! Ya!
Genangan air itu menampilkan guratan hitam bayang diriku, tapi juga mampu
tampilkan sisi terang bayangan diriku, meski tak sejelas cermin. Tapi aku tahu,
kalau itu bayanganku. Genangan air memang tak mampu menampilkan bayangan
wajahku secara jelas, tapi dia mampu menampilkan sisi terang dan sisi gelap
diriku. Dia adalah cermin kehidupan yang sesungguhnya! Cermin yang membuatku
sadar kalau selama ini aku terlalu terlena dengan cermin jernih yang terbuat
dari kaca, hingga aku abaikan cermin keruh yang hanya genangan air.
Aku mampu melihat betapa busuknya diriku! Aku baru
sadar, selama in aku terlalu sibuk dengan cermin dari kaca yang merupakan
penjelmaan dari tiap tanggapan orang tentang diriku. Aku selalu bercermin lewat
tanggapan baik saja dan aku lupa akan siapa sebenarnya diriku. Aku terlalu
mengabaikan genangan air yang menampilkan segala kebenaran tentang diriku.
Sekarang aku paham dengan kata- kata lelaki tadi. Aku juga mengerti kenapa
kegagalan ini harus menimpaku, karena aku terlalu sibuk dengan keindahan
diriku, sehingga ku lupakan keburukan yang bersemayam dalam diriku. Aku terlalu
bangga dengan pujian orang, sehingga aku tak mampu melihat kelemahan dan
kesalahanku. Jadi, selama ini aku sangat sombong. Astagfirullahaladzim, berani-beraninya diriku memakai selendang Tuhanku. Ternyata memang benar keindahan itu
laksana topeng kehidupan yang harus segera ku lepas, aku harus maju tanpa
topeng! Aku harus buang topeng ini jauh- jauh!
Brzzt...., sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi
dan parahnya, aku terkena cipratan genangan air itu. Hampir saja aku mengumpat
pengemudi tadi, tapi aku sadar ini semua pantas untuk ku terima. Bahkan ini
semua bukanlah balasan yang sebanding atas apa yang diriku lakukan selama ini.
Maafkan khilafku Allah....
Hari triardiyanti♥♥♥
Maafkan khilafku Allah....
Hari triardiyanti♥♥♥
♥♥ ♥
Langganan:
Postingan (Atom)






